Doa Ilalang Api

terimalah doaku.

doa yang dihantarkan angin,
doa yang menjilat-jilat langit

aku fana, engkau abadi

  
langit membeku, awan-awan hitam berdiam dalam kepalaku, tunggulah geletar petir puisi bergesekan di udara penuh listrik. gelegar guntur guruh petir di antara awan-awan hitam, serasa ingin membanjirkan kenangan demi kenangan buruk ke kota-kota yang paritnya tak sanggup menahan amarah penuh kotoran dan sampah.

seorang anak berdiri di atas loteng: lihat! perahu kertas yang kita apungkan di selokan hitam di belakang gedung-gedung megah itu, terhanyut kemari!

seorang penyair menuang syair menuang sajak menuang puisi ke dalam gelas, bergelas-gelas puisi syair sajak diteguknya, hingga mabuk dan perahu kertasnya menjelma kapal pesiar. teriaknya: hujan! hujan! datanglah, aku akan berpesiar ke negeri-negeri asing, katanya menggapai awan hitam

awan hitam penuh listrik dalam kepalaku menyambar-nyambar menggeletarkan kata-kata
  
siapakah namaku, kau tahu? atlas yang memanggul gedung di abad 21, adelaide, adelaide tak kau lihatkah bebab di kepalaku?
  
aku mainkan piano, di sini, jari jemari menghentak, hidup harus terus diperjuangkan, sekeping demi sekeping sen atau dollar, gemerincing di trotoar

apa yang kau cari sturt? apa yang kau temukan sturt? bersama namamu flinders dan james cook juga darwin menjadi kenangan dari abad-abad negeri ini, menjadi nama-nama jalan raya, menjadi nama sekolah, menjadi nama-nama yang akan dikenang. tapi siapakah yang membaca puisi di bawah gums tree, dekat billabong, mungkin aku yang beterbangan bersama burung-burung dan bebek liar

Puisi Doa Ilalang Api
Puisi: Doa Ilalang Api
Karya: Nanang Suryadi

Baca Juga: Puisi Rindu untuk Istri yang Jauh

Post A Comment:

0 comments: