Hanya Tanah Liat

aku hanyalah tanah liat
jadi tembikar tempayan rapuh
atau sekedar topeng kosong
Engkau yang hembuskan hidup
lebih dari sekedar kuasa kata-kata

aku hanya ruang kosong
musafir yang selalu datang
terlambat dari abad yang lampau
dengan mata selalu tergenang
memandangi Engkau serupa kanak mengharap permen

aku sekedar udara yang melayang persis daun kering
dipaksa tanggal dari rantingnya lantas bergegas tak berdaya
terhempas dalam usia yang tiba-tiba merapuh dan keropos
tak punya apa-apa selain fana yang beban.

dan dikejauhan sana:<br>Engkaulah gembala itu
bernyanyi dengan seruling merambati hati
nafas nadaMu berhembus dari langit ke laut
melanda segenap pantai dan bergaung di lembah-lembah sunyi
aduhai, Engkau Penggembala, aku sapiMu
ditenung siul serulingMu yang merambati
dinding-dinding beku di lekuk sepanjang nadi

Puisi: Hanya Tanah Liat
Puisi: Hanya Tanah Liat
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Puisi tentang Hewan Kucing

Post A Comment:

0 comments: