Puisi: Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis Karya: Tjahjono Widarmanto
Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis

tak juga selesai ujung jalan ini. kelokan-kelokan tajam tak usai
tak juga kunjung kutemu sebuah taman dengan bangku-bangku panjang
buat berbaring mengenang lelap yang tak lagi bangkitkan ingatan
bagaimana mimpi-mimpi berkelindan jadi jaring penangkap ikan lokan

aku ingin duduk, sebentar saja, bersila atau jongkok
sekedar berak atau kencing atau cukup mengejan saja
namun jari-jari kaki melolong dan memanjang melubangi sepatu, merayuku:
“berjalanlah terus. di sana nanti akan engkau jumpai sebuah taman.
engkau akan bisa mengintip dari sebuah lobang kunci hitam
langit menghisap waktu seperti menghisap candu”

kuseret lagi tubuh berjalan tanpa sepatu
telapak-telapak kaki melebar dan menebal
ditumbuhi cendawan dan lumut serupa adonan kue.
sebenarnya aku ingin berjalan gontai sambil berkhayal
nongkrong di amben sebuah warung di pinggir sawah
atau sudut bulakan menghembus kretek nyruput secangkir kopi
sembari menghikmati aroma keringat ketiak perawan gemuk penunggunya
namun jari-jari kakiku melompat serupa katak memburu bayang-bayang kota
yang mengabur lantas tenggelam dalam candik ala yang larut dalam semangkuk darah

aspal jalan tambah hitam. tapak kakiku membiru
menebal jadi cendawan dan lumut.jalan tanpa ujung
belum juga kutemu sebuah taman.

sampai entah di kelokan ke berapa
kutemu mayatku terendam dalam parit
mengelupas putih coklat kekuningan tanpa bola mata
mirip biji manggis membusuk

aku tersedu tanpa bola mata
orang-orang bergumam dan mengusung mayatku
menuju sebuah taman yang pohon-pohonnya
bersarang burung-burung hitam dengan sepasang mata
lapar menjilati mayatku yang makin mengelupas.

Puisi Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis
Puisi: Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Puisi 17 Agustus

Post A Comment:

0 comments: