Selepas Hujan

dari tanah yang basah, selepas hujan, masihkah ada kata? meluncur ingatan pada lumpur yang merendam mimpi-mimpi.  berapa harga yang harus dibayar, untuk sebuah kuasa, kekuasaan yang fana, teramat fana.

aku pungut tanah basah, selepas hujan, lumpur pengetahuan, bebauan yang diperam dieram waktu, ingatan terulang berulang. dari tanah yang basah, mungkin akan kau bayangkan likat liat, atau gembur subur, dari tanah merah menggeliat cacing memanggilmu: guru.

di undak-undakan waktu, di usia yang telah sampai pada maqamnya, siapa yang bertanya pada dirinya sendiri: siapa aku?

apa yang dipikir dirasa ditimbang timang, ditimang-timang: mungkin ragu mungkin sesuatu yang tak niscaya, mengembara dari mata

ada yang berteriak di saat hujan: jangan bermain kran, nanti mengucur kata menderas membanjir meluap kemana-mana, menghanyutkan mimpimu!

aku pungut kata, dari tanah basah, hujan yang menderas, di dalam pikiranku kata menderas, menghanyutkan pikiran-pikiran banal binal

aku mengalir, menderas dalam pikiran-pikiranmu!

Malang, 31 Oktober 2011
Puisi Selepas Hujan
Puisi: Selepas Hujan
Karya: Nanang Suryadi

Baca Juga: Puisi tentang Hewan

Post A Comment:

0 comments: