Puisi: Negeri Tanpa Moyang (Karya Alex R. Nainggolan)

Negeri Tanpa Moyang

Selalu kau ajak aku tiba di tanah pecah. Mengapungkan derit patah, suara yang resah. Tetapi, kita acap kehilangan moyang. Menggapai sekujur malang. Tak punya silsilah yang biasa ditulis dalam halaman buku sejarah. Kini, telah kudapati masa kecil yang tak beralamat. Miskin petuah dan renungan. Kehilangan hari demi hari. Dari geriap lengkung wajahmu, kucium bau matahari dan amis darah kemarin sore. Yang tak kunjung mengendapkan petualangan baru. Hanya dendam hitam yang tak habis semalam. Sekadar mencari pijak tanah bagi langkah kaki yang bersembunyi, di hamparan lumut. Mungkin, tanganmu akan gemetar, menyingkap siang-malam, ketika matahari tiba-tiba terbenam. Runcing ingatan tentang sebuah senja yang luka. Kau tikam berkali, namun tak berdarah.

Kita selalu kehilangan waktu. Musim-musim yang makin dingin, menyilet rindu yang tak pernah terkirim. Bahkan, ketika kau kunjungi kantor pos yang selalu mendentangkan keterjagaanmu. Pada suatu tempat, yang biasa kau datangkan sepucuk surat. Di mana kau bentangkan semua inginmu, pada pintu rumah yang kerap terbuka. Membawa semerbak angin, merujuk keturunan yang sungsang. Dan, tanah ini berdarah. Kau masih saja menuliskan sajak cinta. Tentang rasa takutmu di masa remaja, di mana tak ada perempuan yang mau singgah.

 Aku sendiri heran. Kau begitu melongo, melihat jendela yang luka.
“Aku lahir dari kelamin waktu, tak sempat menulis sejarah.”
Ah. Kau? Mengapa selalu kau percakapkan sejarah. Apakah penguasa sedang menetapkan darurat militer? Di genting rumah yang mulai cabik, karena cuaca kerap tergesa dan lupa. Kini, mimpimu terlihat begitu sendiri. Tak mau menjulang tinggi, dijerat kenangan yang serapah. Seperti pelepah-pelepah pisang, mendadak tumbang. Mungkin, anak cucu kita akan lahir penuh derita. Dengan demam tubuh yang menahun, wajah yang melulu dihuni koreng.

Tak punya moyang. Selalu menanam berang. Coretan takdir yang semilir. Sebagaimana kau tatap aku, penuh tanya—menghabiskan sisa petualangan yang makin membulir. Hanya dering telepon, yang selalu ingin diangkat, berucap, “Halo, kematian. Apa kabarmu?”

Selalu kau kabari aku. Benjana cemas baru, dari gigilmu yang sampai ke puncak bukit itu. Melihat layar televisi. Yang mengguratkan sejarah lalu, jika moyang telah lama hilang. Merenda pemakaman baru, di tanah pecah. Tak mampu menyelematkan matahari, juga waktu.

2010
Puisi Negeri Tanpa Moyang
Puisi: Negeri Tanpa Moyang
Karya: Alex R. Nainggolan

Baca Juga: Puisi Senyum Terindah

0 Response to "Puisi: Negeri Tanpa Moyang (Karya Alex R. Nainggolan)"

Posting Komentar

close