Anne

Anne, dengarkan pohon-pohon berbisik, "bukankah Listz
sungguh cerdas dan pencemas?" Waldesrauschen dan kulitmu
pucat dan hawa pengap mengajari rasa takut
dengan keberanian yang bekap. Di kota ini aku mudah jatuh
hati pada gadis beralis gerigis, seperti keluhku padamu,
pada langit warna biru. Malam bertambah panjang
seperti ranjang yang bimbang. Tak masuk akal jika seekor ikan

terperangkap rok dalam. Biarlah keanehan tetap milik setia
tiran tua atau Ahasveros yang celaka, katamu. Di kota ini
aku akan terus jatuh hati pada gadis berbibir tipis, seperti sayangku
padamu, pada serdadu tak berpeluru. Dengarkan pohon-pohon itu
berbisik, 'bukan. Ini tarian perang." Seseorang meniup lilin
ulang tahun dan kau jilat leherku dan kurangkum ranum
dadamu. Tidak, seperti cinta, keajaiban milik semua orang, juga
demonstran yang hilang di jalan, dengan tangan kekal
mengepal. Anne, dengarkan pohon-pohon
berbisik, "dengarlah, demi Tuhan. Ini tangisan negeri yang malang."

1998
Puisi Anne
Puisi: Anne
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Rindu Teman Sekolah

Post A Comment:

0 comments: