Dunia Dongeng

Tetapi di mana tempat bagi kita sejak dunia dongeng
penuh asap pabrik-pabrik dan mimpiku seperti limbah layaknya:
Miskin imajinasi. Tiba-tiba kita bukan anak kecil lagi
yang bergantungan di kabel-kabel telefon, bermain pengantin

pengantinan, dan pipimu bagai kubangan pupur. Bukan. Sungguh
kita pengantin dewasa yang cuma sempat melihat bunga di layar
bioskop dan kau tampaknya begitu enggan
untuk menangis. Daun telingamu telah terlalu besar untuk dihiasi

"bunga pukul empat". Kita butuh ranjang dan bak mandi
yang lebih besar dan kuat. Lukisan rumah mungil
tepat di pusat dinding kamar, entah sejak kapan,
berubah menjadi lukisan abstrak. Barangkali benar,

kita kehilangan masa kanak-kanak.

1993-1999
Puisi Dunia Dongeng
Puisi: Dunia Dongeng
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi untuk Sahabat FB

Post A Comment:

0 comments: