EFROSINA

Ketika bangun pagi sekali, pada suatu hari,
aku takjub ilalang tumbuh sepanjang betisku.

Tubuhku kecut dan pasi,
hujan menyiram rambutku semalaman;

seseorang bermuka pucat bermahkota cahaya
ke dalam cawan menuangkan cairan merah bagai anggur,
seperti darah:

"Untuk kesehatan kita." Kami pun bersulang,
aku bersulang, dengan murung.

Tapi demi Tuhan, demi dia,
wajahnya jelita dan jenaka.

Aku teringat ibu, lalu kutanyakan padanya
telah ia lihatkah pohon di sorga
muasal semua penderitaan manusia.

Namun ibu tersayang terlalu jauh
dan seruanku begitu rendah.

Angin keras dan riuh, tersesat aku di entah.

Andaikan firdaus, seandainya inferno,
dapat diukur dengan kilo jaraknya
dan jarum jam berputar sebaliknya.

Barangkali aku menangis, ya, sendirian, bermalam-malam.
Keningku rekat ke marmar, jiwaku memar.

Kelopak bunga baobab berguguran dari sembab mataku.

Di kejauhan seluruh masjid bertakbir,
para malaikat pulang ke tabir. Meninggalkan sayap mereka
di jalan raya.

Aku terikat di tempatku.
Para filsuf menyebutnya dunia, aku menyebutnya penjara
atau puisi atau jalusi musim semi.

Seseorang dengan sinaran berputar di lingkar kepalanya
menjadi kekasihku yang setia, dan pada suatu senja
minggat begitu saja.

Aku patah. Jatuh sakit dan ginjalku lemah.

Aku menunggu, tidak, aku tidak menunggu, aku menunggu,
tidak, mustahil aku menunggu, aku menunggu,
tidak, ia muskil kembali, ia mungkin kembali.

Wajah yang memukau menyelundup dalam mimpiku.
Bagai hujan rusuh menghunjam lebuh kemarau.

Di hari yang lain pusar di lidahku diliput
lumut, dan mulutku pun bisu.

Biji gandum liar berjatuhan dari lubang hidungku,
disemaikan angin ke seluruh penjuru.

Aku kini buta dan menanti.
Bersandar di kursi malas seharian,
setelah itu berminggu-minggu,
kemudian berbulan-bulan.

"Dungu!" suara asing berbisik di telingaku,
"segala sesuatu berubah. Waktu tidak berlari ke punggungmu.
Duduk manislah di situ, kenangkan perbuatan
santun masa mudamu.

Kutuklah pawai, juga partai,
atau apa pun sesukamu."

Sayang, sayang, jangan menuduhku pencaci
dan mendakwaku Mephisto atau Samiri. Bukan, sayang,
bukan.

Namaku tak jadi beban.
Aku bukan Aaron, bukan setan.

Aku pencinta wajah yang pernah datang dan hilang
meninggalkan untaian manik cahaya,
seperti lira Orfeus bagi madah Eridike yang nestapa.

Aku makanan dalam ususmu,
keluhan dukalaramu,
aku retina dalam matamu.

Hanya kudengar desir angin.

Maka kepadanya aku berkata: "Kunjungilah negeri terjauh.
Temukan dia untukku." Akan kutanggungkan

kesedihanku merangkum ranum senyum itu.

1999-2000
Puisi EFROSINA
Puisi: EFROSINA
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Kumpulan Puisi tentang Kegiatan Ekonomi

Post A Comment:

0 comments: