Puisi: Episode Terakhir dari Kemurungan (Karya Cecep Syamsul Hari)

Episode Terakhir dari Kemurungan

Keajaiban senyuman menciptakan puluhan matahari
bersinar lembut dalam hatiku. Lengan-lengan cahaya
menyibakkan tabir segala musim dan rahasia
dunia yang lain. Bagi duniaku,
kau lebih dari sekadar anak kecil yang berjam-jam bermain
sebagai seorang ibu. Merawat boneka-boneka cedera
dan serdadu-serdadu plastik korban kekejaman
pertempuran abadi di bumi yang sakit jiwa ini. Di sinilah
kamar tidurmu, sayangku, di dadaku yang penuh kasih
dan duka. Dengarkan beragam ceritaku mengalir

tak henti-henti. Matamu yang terpejam
dalam tidur yang tenang melahirkan keajaiban
yang asing. Sesungguhnya tak ada tingkap
yang benar-benar kuat menutupi dunia mimpi dari dunia
yang terluka ini. Manusia adalah kumpulan kenangan
dan keinginan. Makhluk yang terbuat
dari separuh dongeng dan separuh kenyataan. Berbaringlah
sepanjang malam di pangkuanku, sayangku, peluk erat-erat buku
ceritamu. Suatu saat kelak kau akan bangun dalam peran
yang baru. Barangkali Puteri Salju, peri dengan ratusan sayap,

atau seorang ibu yang kekal mencintai kanak-kanak.

1993-1999

Puisi Episode Terakhir dari Kemurungan
Puisi: Episode Terakhir dari Kemurungan
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Mata Air
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar