Gertak Merah

Langit teduh. Hari rusuh. Angin mengungkai
kerudungmu melambai-lambai. Teringat kotaku, di perpustakaan
tua, lusuh dan bertingkat dua, aku bertanya: Mengapa gedung
ini berisi cuma sepi? Mengapa pula madah matamu mendedahku
tak henti-henti? Kau tersenyum, kau selalu tersenyum. "Tuan mestilah
singgah ke Jalan Padi, rumahku yang sunyi, lebih damai
dari mimpi dan pantai kota ini." Namun ijinkan tak kutinggalkan
janji dan kenangan. Tak ingin kusimpan kesedihan
kecupan atau sampiran pantun tumpah darah negeriku,

dalam hatimu. Lohor pun turun di Johor Bahru. Kucekal lembut
siku tanganmu. Kita menuju lebuh terdekat. Setelah itu, kedai
Keling pertama kali terlihat. Hari ini akan menjadi Selasa
kita sepenuhnya. Esok, dan esok, dengan murung akan kucintai
lagi sebuah negeri yang menindas hari Minggu dengan kibas
bendera dan raung kenalpot dan pawai berpuluh partai. Di kotaku,
sunyi telah lama menyingkir ke sudut langut batinku.
"Kenangkan sahaja aku, bagai Tuan mengenangkan laut
yang tenang itu." Dan senja rebah di Gertak Merah.

Malam di kamar hotelku lebih resah

dari semua malam yang pernah kukenal sebelumnya.

1999
Puisi Gertak Merah
Puisi: Gertak Merah
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Musim Kemarau

Post A Comment:

0 comments: