Hujan Turun di Wonokromo

Hujan turun di Wonokromo. Hari masih pagi ketika wangi
kerudung rambutmu lekat di bangku kereta. Sepotong kue
mentega dan separuh akua disapu debu dari jendela
yang terbuka. Bahkan aku lupa bertanya siapa namamu. Semalam
bunyi roda kereta bagai orkestra raksasa. Seluruh repertoar
sunyi dan pedih. Luka menjadi mulia, dan kesedihan menjadi
agung. Seperti Strauss yang sendiri di tepi Danube yang bins;
begitu jauh. Begitu murung. Semalam, danau yang sama

kulihat di matamu. Kupesan segelas kopi lagi. Menunggu
sebuah sentuhan lagi. Masih dua stasiun
di depanku. Setelah itu hidup akan menemukan jalannya
sendiri. "Sebab hidup seperti kupu-kupu," kenang Nana
Moskouri, pada suatu hari. Maka dengan hati-hati kupegang
kupu-kupu itu. Kuterbangkan ke luar jendela. Kedua sayapnya
rapuh menangkap udara. Dan hujan pun turun
di Wonokromo. Hari masih pagi ketika bau punggungmu

menyelundup kaku. Di lengan bajuku.

1996
Puisi Hujan Turun di Wonokromo
Puisi: Hujan Turun di Wonokromo
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Facebook Lucu

Post A Comment:

0 comments: