Ida

Hanya harum rambutmu yang mampu membangun
kamar-kamar sunyi dalam batinku. Karena matamu,
malam menepis cahaya, kelam menjauh
dengan takut dan cemburu. Sejarah risauku
mencatat nama-nama lara bagimu. Namun bagai janji
kau tetap setia pada pagi hari, meluruskan untukku baju
hari itu, dan aku pun pergi ke riuh yang jauh
(setelah kau cium punggung tanganku). Di ujung hari
di ruang tunggu, kamar-kamar hotel, dan kedai-kedai kopi,
bersama daun dan duka kutulis berlembar-lembar puisi

dan kubakar kembali. Senyummulah puisiku. Di meja makan,
tiada yang lebih indah dan percakapan-percakapan. Kucuri
semangkuk kenangan, di tengkukmu, di bahumu, di bibirmu
yang lembut karena malu. Di keriangan meja makan ini
kusembunyikan sepuluh tahun ketakutanku pada malam hari
dan cinta dan maut yang rahasia. Dini hari sudah. Kukecup
pelan keningmu, di situ mimpi dan bayang-bayang mengerutkan
kisah masa silammu. Kepada harum rambutmu aku selalu kembali,
membuat beberapa pengakuan, menulis sejumlah syair
kesedihan. Ida, Ida, kaukah Antonina

dalam tubuh Yuraku yang terluka.

1997-1999
Puisi Ida
Puisi: Ida
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi tentang Kenangan Bersama Teman

Post A Comment:

0 comments: