Ikebana

Pot itu terlalu buncit. Di tepi meja sempit ia seperti perut kurcaci, dan Puteri Salju itu tertawa geli. Merangkai daun pakis dan mawar merah dan gladiul, pada pukul tiga dini hari, bukankah majnun? Tapi ia berkata, "Adakah cinta tanpa sesuatu yang gila  dalam kulum lidahnya". Dua sendok gula kau susupkan kedalam cangkir teh panas itu.  "Di ujung bawah singletmu telah kusulam  huruf awal namamu," katamu. Bercakaplah dengan desir angin, dan kutub jendela  dan sepatu berdebu itu. Sebab di pagi hari ketika sejumlah orang masih sembunyi, mungkin dalam mimpi, ia akan pergi dan melupakan sikat gigi di atas meja pucat, di pinggir kasur

lipat, menindih sepucuk pesan singkat, "Terimalah seluruh keluhku dan rangkai bunga itu dan peluhku yang masih melekat di liat lehermu. Esok aku kembali. Menjemput sepasang sekam matamu dan membacakan sebuah puisi." Esok, begitu pilu janji itu. Sebab mungkin berarti sebuah senja, di tahun berikutnya, ketika hujan pertengahan bulan penghabisan akan menyentuh alismu dan payung basah dan kau menangis sendiri di malam yang resah. Kau pun menulis di halaman sekian buku harian, dengan kesedihan yang enggan. "Ia datang dengan mata yang tajam. Kata-kata yang menggetarkan tubuh telanjang dan nafas tertahan. Ia datang dengan lambung yang sakit. Cinta yang rumit. Seperti tekstur wayang kulit." Setelah malam itu, dari langit-langit kamarmu,

kerap wajahnya menghimpit sesak dadamu.

1997
Puisi Ikebana
Puisi: Ikebana
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi tentang Ilmu Ekonomi

Post A Comment:

0 comments: