Kebun

Mestinya ada batas bagi angan-angan. Seperti pantai
bagi laut. Atau cakrawala bagi langit dan bumi. "Kebun itu,"
katamu, "penuh dengan singkong, talas dan ubi

jalar. Agak jauh di pinggir, bergerombol pohon pisang
— dekat dengan kandang ayam." Kebun itu sangat indah
dalam mataku, meskipun aku tak lebih seorang

pemimpi yang hanya mampu membawamu
ke alam dongeng: Berlayar ke Negeri Ombak-ombak Hijau,
bertemu segala peri yang baik hati.

Sering sekali, aku takut, kau dilarikan raksasa pemakan anak-anak.
Meskipun kau bukan anak-anak lagi. Sering pula aku takut,
kau disumpah peri jahat. Tidur selama seratus tahun.

Sedangkan aku bukanlah pangeran yang datang berkuda angin.
Mengecup keningmu. Perlahan membangunkanmu.
Membawamu kembali ke puri jauh di kaki gunung.

Mestinya ada batas bagi angan-angan. Begitu juga rasa takut
kehilangan. Seperti pantai bagi laut. Atau cakrawala
bagi langit dan bumi. Kebun itu sangat indah dalam mataku.

Tak akan kuubah ia menjadi kebun bunga.

1991-1999
Puisi Kebun
Puisi: Kebun
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Kumpulan Puisi IG

Post A Comment:

0 comments: