Puisi: Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun

Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak,
dan Sisa Embun

Lapangan rumput, sisa embun dan masa kanak-kanak menggelinding bagai bola, serangga tak bernama, impian-impian dan entah apa-apa.

Menggelinding bagai bola, sebuah lomba tentang bahagia, gol dan sukses, tetapi yang terjaring adalah nasib dan bukan tidak apa-apa. Peluit tidak berbunyi, aturan-aturan dibuat dan dimakan, mengenyangkan isi kepala yang menggelinding dari sudut ke sudut. Tendang dan kejar. Tendang dan menggelepar. Batu dan kaca. Kaca dan mata. Pecah dan luka. Menggelinding bagai bola, sebuah lomba tentang bahagia, tetapi dunia jadi embun masa kanak-kanak, rumputan dan serangga dan sejuta suara warna-warna dan impian-impian menggelembung jadi sesuatu yang bernama luka, tetapi bahagia, bukan, bukan-bukan, ternyata kuda-kuda memakan rumput dan meninggalkan embun dalam ringkiknya.

“Hidup bung, merdeka atau mati…”

1978
Puisi: Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun
Puisi: Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun
Karya: Hamid Jabbar

Baca Juga: Puisi Terbaik Indonesia

0 Response to "Puisi: Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun"

Posting Komentar

close