Negeri Seribu Peri

Sebuah senyuman di masa sham melahirkan seorang penyair
dalam tubuhku. Kusunting sayap kupu-kupu pada punggung
daun telingamu. Langit masih bercahaya ketika kukisahkan
padamu hikayat bulan yang terbelah dan bagai seekor burung
di negeri Wilde yang murung kubiarkan jantungku
ditusuk puluhan anak panah beterbangan dan matamu. Di situ
Tuhan menemukan segala keindahan dan pilu. Kususun

kembali kepingan-kepingan luka dan senyuman
menjadi pena dan puisi. Juga kecemasan, yang dengan matamu
kau seru sebagai cinta. Seorang anak perempuan
membaca buku cerita. Berkawan ribuan peri. Pada keajaiban
tawa ia bangun rumah mimpi-mimpinya. Langit masih bercahaya
ketika kupeluk tubuhmu, kutampung harum rambutmu,
menjadi udara bagi ruang angan-anganmu. Sebuah kecupan
pada ujung pertemuan sepasang alismu yang panjang

melahirkan kembali seorang penyair dalam tubuhku.

1996
Puisi Negeri Seribu Peri
Puisi: Negeri Seribu Peri
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi tentang Facebook

Post A Comment:

0 comments: