Sagan-dong

Di depan stasiun Anguk, exit nomor satu
Aku menunggu

Aku ingin menyerahkan seluruh siangku
Pada hari Sabtu itu kepadamu

Kau terlambat setengah jam
Dari waktu yang kita berdua rencanakan

Dan aku yang biasanya benci menunggu
Mengalah pada tekanan kesabaranku.

Di depan stasiun anguk, exit nomor satu
Pada pukul sebelas tiga puluh

Kau muncul seperti seorang model
Dari sebuah edisi majalah musim panas.

“Maaf terlambat. Aku terlalu banyak minum.
Seusai latihan tadi malam,” katamu.

Kita pun berjalan menuju Les Trejours
Mencari sandwich dan sepotong roti.

“Aku yakin kau tak sempat sarapan.
Di kafe itu, hanya ada minuman ringan,” kataku.

Ketika sampai di Sagan-dong
Wajahmu terlihat cerah.

Berhadapan dengan istana Gyeongbok-gung
Sebuah kafe dibangun di bawah tanah

Trotoar panas dan menyala
Dan sepi sebuah pintu menunggu tamu.

Aku ingin menyerahkan seluruh siangku
Pada hari Sabtu itu kepadamu

Seperti kau menyerahkan dirimu
Pada peran yang akan kau mainkan

Di sebuah teater kecil di Hyewa
Dalam sebuah drama berbahasa Korea.

Dalam perjalanan pulang
Kita lewati mulut Insa-dong begitu saja.

Di sebuah sudut, sejumlah seniman jalanan
Menyebarkan aroma bawang dan shoju.

Jalan itu selalu mengingatkanku pada riuh
Malioboro, ketika malam tiba.

Di depan stasiun Anguk, exit nomor enam
Tentu, senja belum lagi tiba.

Ketika kau melambaikan tangan
Dan memberiku senyum perpisahan.

Telah kuserahkan seluruh siangku
Pada hari Sabtu itu kepadamu.

Seoul, 2006
Puisi Sagan-dong
Puisi: Sagan-dong
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Pendek Bertema Indonesia Jaya

Post A Comment:

0 comments: