Senja

Engkaukah itu yang berkeras sembunyi
dalam batinku. Memetik senja bagai memetik pucuk
airmata. Menyeduh separuh kenangan dalam segelas
sirup markisa. Mengekalkan senyuman pada lembaran
lembaran kartu pos bergambar: Ada Kuta dan Beringharjo,
dan sungai musim semi Hokaido, di situ; pun rumah
berkebun rimbun yang keindahannya cuma mungkin
dalam impian. Kini senandung Nina Bobo
mengubah kamar-kamar kosong menjadi lorong
kecemasan. Cinta, barangkali dapat disapa

dengan ribuan nama. Namun kau begitu jauh,
berkeras sembunyi dalam batinku. Di tepi halaman itu,
petang datang dan pergi. Pada setiap jejak
cahaya yang ditinggalkannya, aku menemukan rahasia
senyuman, tumpukan kartu pos, susunan surat
dengan alamat yang sama. Cinta yang tersipu pada seluruh
kata-kata. Aku terlanjur percaya kenangan akan usai
dengan sendirinya. Seperti takdir. Atau lakon sedih

Shakespeare. Kamar-kamar sepi itu sedang menimang
impian dan sejarahnya sendiri. Suatu ketika aku menjadi tua
dan keras kepala. Berbicara hanya tentang masa lalu,
tak habis mengerti mengapa berulang kali

menepis lengan senja, dan kehilangan.

1995-1999
Puisi Senja
Puisi: Senja
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Sedih Facebook

Post A Comment:

0 comments: