Syair Hujan

Membayangkan kau duduk di kursi goyang,
empat puluh tahun kemudian. Membaca kumpulan puisi
seorang penyair. Ia menulisnya pada suatu masa yang ranum.

Di situ, namamu disapa dengan seluruh kata-kata.

Tempias hujan senja hari menjangkau ujung kerudung rambutmu.
Berkali-kali. Risau bagai mimpi. Pada bibirmu, kebisuan bercerita
dengan bahasanya sendiri. Dengan riang menciumi tubuh sedih seorang
lelaki.

Empat puluh tahun kemudian sempurnalah kesedihan itu.

Kau pun membaca sajak seseorang, bagai Heaney,
seperti Sapardi, memberi sunyi pada cinta
yang tersipu-sipu: Kini ia sembunyi dalam teduh matamu.

Senja selalu merahasiakan dirinya. Menyelundup diam-diam
mencuri waktumu, seperti orang asing mencuri pandang padamu.

Vanessa memainkan biola bagai Beethoven
menulis Romance No. 2 dengan seluruh usianya.

Berapa kali akan kau lalui musim semi dan musim
ketika daun-daun berlepasan ke dalam hatimu?
Lina, kurangkaikan untukmu kenangan,

sesuatu yang kelak kau sebut masa silam.

1996-1997
Puisi Syair Hujan
Puisi: Syair Hujan
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi karya Ediruslan PE Amanriza

Post A Comment:

0 comments: