Syair Sebelum Senja

Di Jalan Braga. Potongan-potongan kertas menyerupai
puluhan panji berwarna langit siang hari. Sebentar lagi
hujan. Pintu separuh terbuka: Kau lihat gedung lusuh itu
dibalut kain merah dan putih, seperti warna bibir
dan wajahmu. Agustus sebulan lalu. Menyisakan sihir
pada tiang-tiang bendera. Lelah dan tua. Segelas kopi
dan kerjap matamu melukis angin dengan kata-kata. Gedung itu

pernah melahirkan sekian penyair; beberapa tukang
parkir. Juga kawanku, dulu pemimpin demonstran. Seorang
istri yang setia bermalam-malam menunggunya. Matang
dengan duka. Barangkali dengan tangisan pula. Tak perlu
bertemu lewat rencana yang kau sebut cinta
dan kuberi makna luka. Sampai jumpa. Ada debu meja
di ujung lengan bajumu. Manik-manik kerudung

rambutmu bercahaya. Begitu indahnya.

1996-1997
Puisi Syair Sebelum Senja
Puisi: Syair Sebelum Senja
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Sajak karya Cecep Syamsul Hari

Post A Comment:

0 comments: