Syair Tahun Baru

Haruskah kita berpisah malam ini, katamu, ketika separuh
tubuhku hilang di masa silam dan menemukannya kembali
pada bau rambutmu yang lembut.

Tidak, tak akan kuucapkan selamat tinggal. Menepismu
dalam ingatan atau memahamimu sebagai pertemuan kebetulan.
Juga sejumlah pujian dan kecupan.

Perpisahan adalah akhir seluruh kepiluan,
gumammu, dan kau mencarinya seumur hidupmu:
Bukankah ia sorga yang dijanjikan padamu?

Namun bau rambutmu pula yang tertinggal dalam telapak tanganku.
Malam itu. Jalanan penuh kerumunan manusia.
Kekanak-kanakan dan gembira.

Bunyi tuter dan terompet kertas riuh menyambut tahun baru tiba.
Tahun yang dulu juga, sebenarnya.

Kutampung cahaya paling rahasia
dalam matamu, ibu segala kesedihanmu.

Cahaya itu menjerat sepasang sayap kupu-kupu,
mengirisnya menjadi serpihan-serpihan sepi batinmu.

Tetapi haruskah kita berpisah malam ini, bisikmu.
Ragu. Waktu pun berhenti mengiris separuh tubuhku yang lain.

Kemudian detak jam.
Kemudian sunyi, menjawab pertanyaanmu.

1997-1999
Puisi Syair Tahun Baru
Puisi: Syair Tahun Baru
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Sajak karya Alex R. Nainggolan

Post A Comment:

0 comments: