Tarian Angin

Liszt, kini aku faham mengapa dengan seluruh senjamu
kau gubah Tarian Angin di lebuh masa silam.

Begitu lembut, begitu kekar, rahasia jiwa
tanah Magyar, ibu bagi daun-daun pohon kastanya.

Para penyair perkasa lahir dari perut singa yang mengaum
memburu puisi-puisi liar di hamparan tanah datar.

Dan Danube, ah, Duna yang abadi
telah mati berkali-kali, telah bangkit berkali-kali:

Menjadi makam para pahlawan dan pembangkang
dan bagi para penyair, mungkin sorga yang hilang.

Di tepi sungai itu, kucari sebagian sejarahku
pada sepasang sepatu yang menyanyikan Himnusz
pada rumpun mawar yang tumbuh di atas dada berlubang
seorang tawanan yang ditembak mati.

Di tepi sungai itu, kucari sebagian sejarahku
pada duka tatapan mata zaitun
pada luka yang dikandung setiap pertemuan
sepasang pengembara yang enggan kembali.

Negeri kelahiran atau negeri pengungsian
bukankah memiliki layung senja dan kilau malam yang sama?

Liszt, kini aku faham mengapa badai yang kau ciptakan
telah mengubah Tarian Angin menjadi ribuan peri dan bidadari

telanjang di bawah sinar bulan.

Balatonfüred, 2009
Puisi Tarian Angin
Puisi: Tarian Angin
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Pendek yang Bertema Ekonomi

Post A Comment:

0 comments: