Gergaji

Setiap gergaji berderik melengking mengatasi
bunyi satwa, merintihlah hutan ke angkasa
menggugah mereka yang lelap damai tidur di surga.

Pohon-pohon dan semak-semak saling bicara,
kapan gilirannya mengalirkan darah rebah ke lantai
lumpur yang basah. Kita adalah bagian makhluk
yang kalah, tetapi tidak bisa disingkirkan
dan dibasmi dari bumi ini.

Setiap gergaji berderik melengking tinggi
membelah sunyi, langit turun mendekap
dan menampung air mata kami, ditumpahkan menjadi
hujan dan bencana bumi, prahara atau banjir
menjalar sepanjang lembah-lembah ini. Allah telah
mengutus langit, mengutus awan, mengutus bumi
untuk menantang yang melawan takdir.

Pohon-pohon perkasa rebah dengan gagah, semak-semak
meratapi pahlawan yang pergi. Kepada bumi
dan daratan, lembah menitipkan maaf atas kegaduhan
yang tidak diingini.

Dedaunan dan ranting patah berdoa dan berzikir
sejak pagi. Allah semoga lindungilah wilayah kami
dari keganasan gergaji dan algojo besi. Tubuh kami
telah dikoyak oleh ketajaman dan keganasan gergaji,
pisau raksasa telah mengadili tubuh kami,
saudara-saudara kami, tetangga kami, rumpun kami,
yang selama ini, Engkau bimbing
dan Engkau tunjuki cara terbaik membangun
keagungan belantara ini. Untuk memuja-Mu
Ya Allah! Atas kehendak-Mu

Jakarta, 1 Januari 1993
Puisi: Gergaji
Puisi: Gergaji
Karya: Slamet Sukirnanto
    Catatan:
    • Slamet Sukirnanto lahir di Solo pada tanggal 3 Maret 1941.
    • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
    • Slamet Sukirnanto adalah salah satu sastrawan angkatan 1966

    Baca Juga: Puisi Terbaik untuk Kampus

    Post A Comment:

    0 comments: