Impian di Atas Kursi

(I)

SUDAHKAH TIBA waktunya kita bercerita? Kita akan
pilih saat yang baik dan tempat yang tepat untuk itu.
Aku sudah lama merancang kalimat-kalimat yang tersusun
buat sebuah dongeng yang mengasyikkan. Ah, marilah tenang sedikit
atau apakah kita akan minum dulu dari sebuah gelas saja?
Tidak cukup ini saja:
Engkau diam dan tutup matamu, akan kaulihat impian itu atau
tidak sama sekali. Tapi inilah impian itu:
seorang lelaki berjalan pelan dalam kegelapan. Tiada bayang
dalam kenangan itu. Tiada jejak dalam katupan kelopakmu.

TIADAKAH LAGI ia menoleh? Lelaki itu berjalan terus
di atas jalan yang ditempuhnya. Tidakkan kau lihat? Wahai
tiada lagi ia berpaling.
(Tariklah nafas yang dalam. Ia akan kembali!)

WAHAI, KENAPA engkau terpaku, membisu duduk di kursi itu?
Sudah tiba waktunya kita bercerita. Tentang apa saja.
Kenangan atau harapan. Impian atau bayangan. Wahai,
di manakah suaramu? Engkau yang bisa bercerita
dan bertanya-tanya. Kini membatu dan aku tiada tahu
bagaimana memulai bercakap atau memetik lagu. (Atau aku
akan berteriak saja memanggilmu
setiap hari?

(II)

AKU INGIN sekali saja, mengucapkan bahasa ini.
Sebuah cara atau apapun, yang pernah kukenal
selama ini. Curiga dan dendam yang tiada terkatakan,
tunda dulu! Sementara kan kususun kalimat demi kalimat.
Turunkan pandang itu dari puncak kebencian, aku datang,
dengan kata-kata sederhana. Memang sudah lama
tulisan-tulisan kejang tak diperlukan lagi.

Suara-suara mati di lambung khayal; atau impian-impian abadi

TURUNKAN TANGAN ancaman itu dari ketinggian dendam.
Dan jangan halangi daku yang datang
membawa bahasa rahasia. Sudahkah kau buka pintu muka untuk
jalan utusan yang bakal tiba? Kali ini akulah
yang bakal datang, melepaskan belenggu-belenggu bisu
yang ketat mengurung suara dan jawab hatimu. Kali ini
akulah yang kembali menyerahkan bunga, setangkai kecil
dan sederhana. Terlalu bersahaja untuk sebuah pertanda
atau pengganti kata-kata. Tapi itulah bahasa!

DUDUKLAH DIAM di sana dan aku akan berpura-pura
sebagai pahlawan atau pangeran yang mencuri setangkai mawar,
lalu berjingkat menemui sang putri, di sebuah taman,
berpagar prajurit bersenjata lengkap berjubah baju besi.
Akupun segera melangkah dan berdebar. Satu-dua-satu-dua-satu-dua.
Dag-dig-dug-dag-dig-dug, bunyi langkah masuk. Tiada seorang pun
tahu, seorang pangeran telah mencuri
sebuah hati! Engkau niscaya akan tersenyum
atau tak peduli. Tapi itulah bahasa itu. Dan sampailah sudah
maksud pangeran itu dengan sebuah cara
dan bahasanya.

PEJAMKAN MATAMU pelan-pelan, sementara
bunga itu di tanganmu. Terganggam lena. (Dan ketika
di tengkukmu hinggap sepasang bibir seorang ksatria,
tahulah engkau
bahasa apakah itu).

(III)

TURUNLAH DARI sepedamu. Kita berjalan kaki saja,
mengelilingi taman ini. Bagai dalam sebuah mimpi. Kau lihat
rumputan itu atau pohon palma di sana?
Kemarin mereka gelisah, sore ini mendambakan
rindu! Tidak! Jangan bicara. Engkau boleh berkata-kata
kalau kita sudah sampai di ujung jalan itu, dekat batu
yang berumpuk dua. Kenapa masih juga engkau ragu
dan hendak bertanya juga? Tidak! Jangan bicara.
Lihatlah matahari yang hampir tenggelam, membuat warna sedih
di taman ini. Jangan kita bicara, sampai kita
berhenti di ujung jalan itu.

BAGAI SEBUAH impian, atau memang inilah impian itu,
menghanyutkn syaraf-syaraf lupa. Tapi keraguan itu
telah bertumpuk di atas batu-batu
dan merayap bertanya-tanya di rumputan. Engkau
masih akan bertanya juga, tentang acara senja ini.
Engkau masih juga bertanya, dalam kebisuanmu, Dan mencoba
hendak menutup pintu-pintu mimpi dalam tidurku terduduk
di atas kursi.

(IV)

SEKALI SAJA dan sekali saja. Aku akan bisikkan
kata-kata itu, pada suatu saat kepadamu. Sekali saja,
dan sekali saja. Aku akan katakan bisikan itu, seperti
janji yang terhutang bertahun-tahun,
untuk melamarmu. Sekali saja, dan sekali saja. Aku akan
sampaikan bisikan itu, dalam bahasa sederhana,
untuk mengikatmu. Sekali saja
dan tiada lagi kata. Terputus sudah segala ucap dengan cara
satu-satunya, dalam satu impian nasib kita,
di pangkuanmu.

SEKALI SAJA, dan untuk seterusnya. Burung pengembara
yang letih kan berhenti dan tahu di mana sarangnya. Sekali saja
dan sekali saja. Bukalah tanganmu dan angkatlah
wajahmu. Bulan merah yang sekali saja bersinar
akan menebarkan senyumnya, untuk selamanya.

SEKALI SAJA dan sekali saja. Bukalah kunci kediaman
itu, dan tersenyumlah kiranya! Sekali saja dan sekali saja
Tangan-tangan nasib kan direntang. Dan Tuhan,
berkatilah kiranya doa-doa kami. Amien!

(V)

MASIH SAJA seperti dulu, suara itu. Seakan tiada
berubah oleh cuaca sejarah. Tidakkah kau dengar?
Bertahun dan bertahun, biola malam yang sunyi,
menjerit sendiri. Tidakkah kau dengar?
Ah, seakan tiada peduli pada apapun yang terjadi.
Seakan tiada berobah, langkah-langkah sejarah.
Tidakkah kaudengar?

ALANGKAH TOLOLNYA ia, yang bersikeras
seperti kanak-kanak yang bodoh dan dungu, tiada tahu
akan harga mainan. Menangis ia, melolong sendiri. Tidakkah
kaudengar? Terengah dan letih
terbata-bata dengan napas sedih. Alangkah tololnya,
melengking jeritnya. Tidakkah kau dengar?
Suara yang hampir tak bisa dipercaya. Bergema
dan bergema, sampai ke dasar hati manusia.
Bila tiada juga kau mendengarnya, khayalkan saja
bahwa memang ada
suara.

(VI)

TIDAKKAH ENGKAU malu, wahai, lelaki yang kejang
di ambang pintu. Tutuplah mukamu, wahai, kenapa kau tiada hirau
waktu? Tidakkah engkau lihat, sejak tadi gadis itu
telah berlalu, setelah wajahnya berpaling. Dan menunduk.
Wahai, sepinya meja itu, terpaku ia
di antara kursi-kursi kejang.

JANGAN SEPERTI anak remaja, bertingkah
sungguh menertawakan. Hai, kenapa matamu itu?
Sarat oleh keluh, ataukah bertanya
atas suatu pertanyaan? Baiklah, baiklah. Engkau
boleh menghela nafas dan mengeluh; sementara wajahmu terkulai
tapi semua orang tahu belaka.
Wahai, lagu itu! Lagu itu! Kenapa dinding itu
jadi bergetar oleh lagu itu? Sementara angin di luar
mendesah, betapa dinginnya! Sehelai daun sawo terdengar
jatuh di pasir halaman; dan lagu itu berhenti
tiba-tiba.

1970
Puisi: Impian di Atas Kursi
Puisi: Impian di Atas Kursi
Karya: Budiman S. Hartoyo
    Catatan:
    • Budiman S. Hartoyo tergolong sebagai penyair Angkatan '66.
    • Budiman S. Hartoyo lahir di Solo, tanggal 5 Desember 1938.
    • Budiman S. Hartoyo meninggal dunia tanggal 11 Maret 2010.

    Baca Juga: Puisi yang Terindah

    Post A Comment:

    0 comments: