Jejak-jejak

Bertahun menyusuri pantai membaca gelombang membuat
jejak-jejak di atas pasir dihapus angin sepoi dan dibangunnya
lagi jejak-jejak itu tapi sia-sia tak mampu membentengi bekas
oleh embusan yang datang tiba-tiba.

Ia tahu belajar tentang yang tidak kekal segala ikhwal
yang bergerak karena ada campur tangan saling merusak
dan saling membangun semua gejala dan semua
unsur-unsurnya yang hadir seenaknya di hantaran
semesta yang ada dalam batin manusia.

Tak mungkin ruang kosong di mana saja dibiarkan
tidak berpenghuni juga di antara langit dan bumi
atau wilayah penjelajahan lain yang tak terjangkau
indera ini.

Bertahun menyusuri waktu lewat lorong semua gejala
yang tampak lapang berliku atau lingkaran batin
menghadang ketidakpastian kompas hidupmu lalu kau
buat tanda-tanda tapi apa manfaatnya biarkan semua
seadanya seperti memasuki tamasya yang tak pernah
kau perkirakan lembaran petanya.

Jakarta, 29 Desember 1993
Puisi: Jejak-jejak
Puisi: Jejak-jejak
Karya: Slamet Sukirnanto
    Catatan:
    • Slamet Sukirnanto lahir di Solo pada tanggal 3 Maret 1941.
    • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
    • Slamet Sukirnanto adalah salah satu sastrawan angkatan 1966

    Baca Juga: Puisi Terbaik untuk Palestina

    Post A Comment:

    0 comments: