Puisi: Menangis (Karya Rustam Effendi)

Menangis

Alangkah benciku mendengar tangis
kalau menangis karena sakit.
Alangkah marahku mendengar tangis,
kalau orang disinggung barit.

Amarah hatiku mendengar tangis,
kalau orang meratapi mayat.
Mendengar menangis jantungku pedis.
Bukan menangis kujadikan sifat.

Pabila mataku melihat orang
air matanya membasah pipi,
haramlah hatiku menaruh sayang
pada lelaki berhati puteri.

Menangis itu tandanya tak jantan,
atau anak yang di bawah umur.
Menangis itu béta pantangkan
biarpun bumi luluh dan hancur.

Mengapa béta sebengis ini?
Karena tak ada 'kan jadi tangis;
Karena lah habis yang béta tangisi.
Ah, selama hidup, béta Menangis!

Puisi: Menangis
Puisi: Menangis
Karya: Rustam Effendi

Catatan:
  • Edjaan Tempo Doeloe: Roestam Effendi.
  • Ejaan yang Disempurnakan: Rustam Effendi.
  • Rustam Effendi lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 13 Mei 1903.
  • Rustam Effendi meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 24 Mei 1979.
  • Nama samaran Rustam Effendi adalah Alfaroes. Nama samaran lain yang juga pernah digunakan adalah Rangkajo Elok, Rantai Emas, Rahasia Emas, dan lain-lain.

Baca juga: Puisi Sedih untuk Ibu

0 Response to "Puisi: Menangis (Karya Rustam Effendi)"

Posting Komentar

close