Mengaji

Mengapa tidak bahasa Jawa
atau Sunda
supaya nenek bisa membaca?

Tapi,
bukankah tiap baris puisi
kalau terlalu jelas mengerti
rasanya basi, kurang patri?

Keindahan, kata orang, menyelinap
merayap
lalu mengendap.
Serta bayang-bayang ajaib, mengintip
naik ke bukit
di mana nabi
bagai bertubi-tubi
ketiban wahyu Illahi.

Dalam kitab suci semua orang disayangi:
pelacur, penjahat, dan para penjudi
termasuk tentara dan polisi.
Sifat yang keji
itulah mesti dijauhi
tenung dan sihir

bukan penyair.

1972
Puisi: Mengaji
Puisi: Mengaji
Karya: Dodong Djiwapradja
    Catatan:
    • Dodong Djiwapradja lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.
    • Dodong Djiwapradja meninggal dunia pada tanggal 23 Juli 2009.
    Baca Juga: Puisi Cinta Muslimah

    Post A Comment:

    0 comments: