Negeri Nyiur Melambai

Kenapa kita senang darah mengalir
Kenapa kita senang pukulan-pukulan
Negeri nyiur melambai — bukan lagi wilayah damai
Tak ada ketentraman. Tak ada pesta gembira!

Oh, Praja! Hanya duka. Hanya cemas
Seluruh tubuh ini luka! Mungkin kabar buruk juga
Gosip dari pedalaman: ancaman, pembakaran, kacau balau
Bakal datang menghadang!

Apakah kini masih bisa
Menetes air mata. Melatih diri memasuki kejadian.
Bacalah gejala! Juru telik ke mana?. Di mana anda?

Kudukku bergidik!
Ini bangsa apa?. Ini bangsa siapa?
Begitu semena-mena antara sesama
hanya karena singgasana!

Sungguh mengerikan!
Sungguh menakutkan!

Ada nyanyi begini:

"Sorak-sorak bergembira
Bergembira semua
Sudah bebas negeri kita"

Tapi bukan itu bunyinya:
"Mari membakar gedung-gedung megah
bangunan megah, toko-toko dan swalayan
juga pabrik dan pusat industri yang setiap hari
dilumuri keringat para pekerja. Musnah seketika"

Negeri ini mau dibawa ke mana?
Kalau rumput menyala api kemarahan
Kalau semak perdu menyala api kekecewaan
Akal sehat tidur nyenyak!

Kekuatan berhadapan kekuatan
Otot berhadapan otot. Kelicikan
Merajalela. Anak-anak tumpah ruah
Semarak dan keranjingan jadi penggembira
Sungguh gila lakon Nusantara!

Ternyata zaman senewen ini
Tak ada lagi orang besar!
Tak ada pemandu bangsa!
Yang ada bagai mertua culas
Dan kerumun orang-orang yang saling curiga!

Negeri nyiur melambai - tiba-tiba
Kehilangan harapan! Negeri rampokan
Hutan ludes belantaranya. Kehilangan tapak
Dan jejak sejarah! Di hadapan kita kelak
Bakal berserakan puing-puing
Moral merosot! Kebudayaan keranjang sampah
Budi luhur hanya dongeng dari kubur
Pesan leluhur dulu

Mungkin ada yang tak jujur!
Oh, Praja, ada darah berceceran di mana-mana
Durjana bersembunyi di setiap sudut! Inilah kenyataan!

"Tangan tidak percaya pada tubuh
Tubuh tidak percaya pada kepala
Kaki. Tangan. Tubuh. Kepala
Ingin berdiri sendiri-sendiri"

Inilah kita! Inilah bangsa di ambang petaka!
Aku dengar gaung Aceh
Aku dengar gaung Maluku, Kalimantan, Riau
Dan di mana-mana. Sementara Surakarta dan pedalaman lainnya
Siap bercanda dengan kekerasan
Bom waktu siap meledak!

Oh, Praja. Oh, zaman
Anyaman Nusantara
Telah retak digigit tikus-tikus
Dan disergap rengat yang rakus!

Ya Allah. Ya, Tuhan Yang Maha Esa
Lepaskan Nusantara dari bencana
Jangan biarkan keburukan semena-mena
Biarkan generasi baru menghirup hidup
Rumpun yang segar dan subur

Ya, Allah! Kudaki tangga
Aku merangkak
Aku menggeliat
Aku mengiba

Terimalah sholatku
Terimalah zikirku
Terimalah doaku
Tanganku tengadah tinggi ke angkasa
Aku ingin lebih dekat pada-Mu!
Bebaskan negeri ini dan belenggu!

Tubuh berjalan gontai
Namun lurus menatap ke depan
Karena Engkau
Ya, Allah
Sesungguhnya:
Aku tidak sendiri!

Yogyakarta, 29 Juli 1999
Puisi: Negeri Nyiur Melambai
Puisi: Negeri Nyiur Melambai
Karya: Slamet Sukirnanto
    Catatan:
    • Slamet Sukirnanto lahir di Solo pada tanggal 3 Maret 1941.
    • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
    • Slamet Sukirnanto adalah salah satu sastrawan angkatan 1966

    Baca Juga: Puisi Cinta Gokil

    Post A Comment:

    0 comments: