Puisi: Ratib Saman (Karya Bambang Widiatmoko)

Ratib Saman

Di desa Kelumu
Senja menyambutku dengan sisa mabuk laut
Dalam pelayaran menembus gelombang angin selatan
Dari Tanjungpinang ke Daik Lingga.

Sehabis salat Isya – rasa sejuk menguap
Dari kabut yang mulai turun di kaki bukit Daik
Lalu aku mengencangkan ikatan sarung
Bersiap untuk mengikuti dzikir panjang Ratib Saman.

Aku telah duduk dalam lingkaran di dalam masjid At Taqwa
Berdzikir kepada Allah – sebagaimana dulu dilakukan Syekh Saman
Sebagai tradisi tolak bala – melindungi desa dan penduduknya
Menarik nafas dalam-dalam mengucapkan La Ilaha Illallah.

Aku menarik nafas sebagai sumber masuknya penyakit dan roh jahat
Lalu menghembuskan kembali dengan ucapan La Ilaha Illallah
Agar segala penyakit ikut terbuang – agar ombak kembali tenang
Agar segala roh jahat pengganggu segera menghilang.

Seusai dzikir di dalam masjid
Kami pun turun ke sungai
Dengan menaiki perahu – dari hilir ke hulu
Mengayuh perahu dalam alunan ayat dan doa-doa.

Lingga, 2018
Puisi: Ratib Saman
Puisi: Ratib Saman
Karya: Bambang Widiatmoko

Baca juga: Puisi Kemerdekaan Pendek

0 Response to "Puisi: Ratib Saman (Karya Bambang Widiatmoko)"

Posting Komentar

close