Rudi Jalak Gugat

(I)

Anak-anak zaman yang slebor
Merayap di mana-mana
Tangan muda-mudi yang belum dewasa
Menggenggam kayu dan besi

Mereka bergerak memecahkan hari di kota-kota
Paling depan, Rudi Jalak berselendang
Giwang di kuping kanan
Celana blue jeans kemeja komprang

Anak-anak zaman yang slebor
Gentayangan bagai ruh penasaran
Beramai-ramai menghadang masadepan
Di setiap perempatan jalan

"Merangkaklah keangkuhan, jika ogah terempas!
Menepilah kesangsian, jika ingin punya arti!"

Mereka membalikkan seluruh nasib yang simpang-siur
Untuk sementara, cita-cita biarkan baur
Satu generasi mengepalkan nurani
Menggugat nyali yang lama dipupuri

Rudi Jalak tak lagi bertanya
Alam sudah tak sabar dan jadi sangar
Cuaca awut-awutan, bencana jadi obyekan
Siapa orang yang tak senewen?

Rudi Jalak memimpin seluruh barisan
Membabat angan-angan, mengganyang kebebasan
Berontak pada sekolah
Kaca-kaca jendela dipecahkan

Para guru tak berdaya
Orangtua hanya ternganga
Dan polisi semata saksi
Sedang korban: urusan belakang!

(Jakarta kelabakan!)

(II)

Anak-anak zaman yang slebor
Merangsang bebagai pembicaraan
Tapi mereka tak pernah didengar
Setiap komentar hanya sok pintar

Rudi Jalak dan kawan-kawan
Lalu ditunggangi berbagai tuduhan
Tangan mereka yang belum dewasa
Akhirnya menewaskan seorang pengantar barang

Tidak. Mereka tak juga didengar
Para pimpinan sibuk sendiri di ruang rapat
Lalulintas macet
Toko-toko ditutup serentak

Anak-anak zaman yang slebor
Petentengan di jalan-jalan
Menyedot whisky plastik seratusperakan
Menghirup timah hitam dari knalpot yang seliweran

Rudi Jalak setengah edan

Di rumah ia tak kerasan
Bapak kerja lembur cari tambahan
Siang jurutulis kelurahan
Malam centeng juragan dari pabean

Ibunya perantara jual-beli perhiasan
Keliling kampung duabelas jam
Sampai di rumah menggarap jahitan
Bicara jika tak banyak urusan

Tapi tukar pikiran hanya kemewahan
Bagi keluarga dengan enam orang anak
Persoalan makan tak perlu didiskusikan
Kerja, kerja, kerja, terima saja keadaan

Seperti Bambang Gagak anak pertama
Lulus STM jadi kondektur bus kota
Kawin dengan Kamisah kembang warung tegal
Beranak lima hadiah hiburan

Rini Merpati yang berikutnya
Lulus SMEA dihamili gurunya
Si Guru terus mengajar, si Rini jadi bini muda
Beranak tiga, buka binatu kecil-kecilan

Rudi Jalak kelas tiga SMA Sosial
Selangkah lagi bakal pengangguran
Masadepannya "asal kerja saja"
Jika meleset, jadi gelandangan sialan

Satu adiknya kelas dua SMP
Keranjingan game & watch dan video game
Saban hari bertempur di angkasa luar
Pulang ke rumah jika perut sudah lapar

Satu lagi SD kelas empat
Rapornya kebakaran selalu
PMP tiga, Bahasa Indonesia tiga
Bolos melulu karena minder

Si Bungsu masih tak karuan
Cacingan dan gizi berantakan
Pertumbuhan terhambat, nafsu makan payah
Nyaris disantap anjing si Babah

Anak-anak zaman yang slebor
Memadati rumah-rumah petak yang sesak
"Rudi Jalak & His Family" berkandang di kotak begituan
Setiap hujan tiba, mengapung bersama-sama

(Jakarta kelabakan!)

(III)

Anak-anak zaman yang slebor
Tenggelam dalam pusaran tak terduga
Tangan mereka yang belum dewasa
Lunglai setiap hendak menggapai

Tubuh terpotong tigabelas bagian
Ribuan kepala menggelinding tanpa tanda pengenal
Masadepan kehilangan warganya
Generasi tak pulang modal

Rudi Jalak memimpin barisan
Giwang di kuping kanan
Celana blue jeans kemeja komprang
Selendang di leher menutup cupang

Membela kawan yang konon diperkosa
Beramai-ramai menyerbu sekolah si hidung belang
Mencegat bus kota menyatroni pertokoan
Dengan semangat tempur habis-habisan

Blok M, Gambir, Tanjung Priok pun geger
Bukan lawan, bukan pelajar, ikut digeber
Petugas keamanan pada keteter
Ketegangan tak gampang dibikin encer

Anak-anak zaman yang slebor
Tak gentar terhadap pelor
Petugas menembak ke atas, mereka ngeloyor
Balik lagi mengibarkan kolor

(IV)

Anak-anak zaman yang slebor
Ditangkap malah kesohor
Benjol-benjol akibat popor
Mereka anggap sebagai paspor

Lepas ditahan jadi jagoan
Disegani kawan dan lawan
Tiap hari ditraktir makan
Sambil mengulang-ulang dia punya pengalaman

Sebagai pahlawan sekali jalan
Mereka ogah kehilangan nama harum
Kecil saja satu persoalan
Mereka terjang sembari mengaum:

"Jika para hakim melangar hukum
Jika biang maling kebal akan hukum
Jika tangan besi tak dibikin kutung
Kenapa kita juga tak boleh mumpung?"

Anak-anak zaman yang slebor
Rindu dendam melawan aturan
Yang bertahun-tahun memakmurkan orang
Yang bertahun-tahun melaparkan orang

(Jakarta kelabakan!)

(V)

Anak-anak zaman yang slebor
Hidup di tengah alam banyak tingkah
Meluncur dari rahim Allah
Memasuki zaman yang terbelah

Terbuat dari sperma Orde Lama
Belum disumbat Keluarga Berencana
Mereka tumbuh bagaikan hama
Mengancam ladang-ladang dan huma

Anak-anak zaman yang slebor
Diarahkan berbagai makalah
Dikupas satu per satu
Ditumpuk dengan sistem kartu

Tapi sukma mereka tak ikut dihitung
Seakan hanya gombal di dalam sarung
Mereka bingung oleh bermacam analisa
Menjadi asing di tengah masa

Anak-anak zaman yang slebor
Mengambang di setiap gang
Mengapung di seluruh kampung
Terdesak ke sudut linglung

(VI)

Di sini, di sini di dalam sunyi
Mereka kini mengais bunyi
Bukan dari tangis meski mengiris
Bukan dari puisi antara gerimis

Anak-anak zaman yang sangsi
Tak percaya lagi kepada pagi
Bukan bagi mereka esok hari
Bukan bagi mereka matahari

Di sini, di sini di ini negeri
Telah lama nurani dalam terali
Bukan milik para pemberani
Sedikit saja orang yang peduli

Anak-anak zaman yang bimbang
Tak bercahaya menjadi bayang
Bergerak dengan langkah gamang
Menempuh jalan semakin remang

Rudi Jalak dan kawan-kawan
Menggugat keruwetan di masadepan
Gejolak tak lagi bisa ditahan
Diperlukan sedikit saja keberanian

Mereka pun menyebarkan berbagai kegawatan
Di depan para petugas keamanan
Tapi masih banyak cara yang bikin penasaran
Mereka "berjuang" di pintu belakang

Kemaluan dijadikan mainan
Kehamilan hanya ekses perlawanan
Kekerasan dijadikan kegiatan
Kematian hanya bagian dari kesialan

(Jakarta kelabakan!)

(VII)

Anak-anak zaman yang slebor
Yang putus sekolah dan pengangguran
Melayang dibawa arus kemajuan
Bagai kerikil dalam bendungan

Mereka menggelinding antara dua dinding
Tak bisa ke kiri, tak bisa ke kanan
Terus melaju bersama arus waktu
Makin menggembung bagai bola salju

Tak ada stasiun untuk berhenti
Momentum tak boleh dibiarkan vakum
Sekali dipacu harus terus laju
Maju, maju, maju, mengejar semua atribut

BBM naik tak perlu panik
Mereka berkelebat menyandang clurit
Menyabit siapa saja yang punya duit
Dengan asyik bagai dalam piknik

Anak-anak zaman yang slebor
Merayap di mana-mana

Kecemasan mereka terhadap beban
Menyulap baygon jadi minuman

"Selamat tidur, masa pembangunan!"

November 1981-Januari 1982
dari kumpulan sajak Rudi Jalak Gugat, 1982
Puisi: Rudi Jalak Gugat
Puisi: Rudi Jalak Gugat
Karya: Yudhistira A.N.M. Massardi

Catatan:
  • Yudhistira ANM Massardi mempunyai nama lengkap Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi.
  • Orangtua Yudhistira ANM Massardi bernama Massardi dan Mukinah.
  • Yudhistira ANM Massardi lahir di Karanganyar, Subang, Jawa Barat tanggal 28 Februari 1954.
Baca Juga: Guest Post Real Estate

Post A Comment:

0 comments: