Sipongang

Tercenung renung memandang persada
Tengadah ke awan-awan yang menabiri matahari
Aku di sini, o, negeri yang murung tak terperi

Desau angin tak henti menyapa
Dalam kehijauan yang tak sehijau dulu
Di bawah kebiruan yang tidak seteduh dulu
Kita kembali bersama-sama, berbincang-bincang dalam rahasia
Antara kita, o, tanah merdeka
Antara kita dalam rahasia

Sanubari telah lama tersisihkan
Bukit-bukit tertinggal dalam lintasan
Pematang tak pernah terinjak
Lumpur membatu, dangau menghantu
Telah lama
Telah lama

Sepuluh tahun, limabelas tahun, akan sangat berarti
Untuk dikaji. untuk menyimak sepenuh hati
Menguak yang gelap
Menjernihkan yang pekat
Mendendangkan puji-puja
Bertutur dalam bahasa Bunda
Membiarkan kelewang tersimpan dalam sarangnya
Peluru dalam kotak-kotaknya
Dukacita dalam ketegarannya
Dendam dalam hitungan-hitungannya

Dari sipongang hutan jauh di Beutong Ateuh
Dari puncak Leuser dan Seulawah
Dari tekad yang tak retak
Sesuatu harus ditata

Dan puak-puak duduk bersama
Merenung, meluruskan
Menimbang, mematangkan
Menyikapi, menegakkan

Suatu saat kelak, negeri ini akan kita pahat dengan iman, dengan cinta
Suatu saat kelak, dengan gagah, dengan takwa

2000
Puisi: Sipongang
Puisi: Sipongang
Karya: Isma Sawitri

Baca Juga: Puisi Cinta Terbaik Indonesia

Post A Comment:

0 comments: