Jalan Sumbawa

Di jalan ini laut hatiku pasang
berbentur dengan alam keliling
jangan lengang, putih dinding
hitam tanah, bingkai jendela
Di jalan ini aku bergulat maut
berpaku antara memberi dan menerima
dengan sekitar
dengan diri sendiri
Di jalan ini lahirnya peristiwa
pengakuan kelahiran tubuh
yang bisa hancur oleh angin dan musim

Tapi soalnya jadi merembet
berlarat menyusur jalanan muram
dalam sadar dan pengakuan
Begitulah di jalan maut
mati hanya sekali
manis atau pahit hanya sekali
berani atau ngeri hanya sekali
Kenapa Tuan tersenyum
laut hati yang tak pernah kering
akan menemukan alam bintang
sekalipun bintang kematian

Karena soalnya hanya satu
ialah menemui hati segala itu
menemukan dasar
dan memeluknya kuat-kuat
Bila melepaskan sudah mencair
dan terucapkan sekali lagi
sekali berpeluk
sekali bercinta
sekali berlepas

Itu tidak nampak di kerut jari
tidak menggaris di urat nadi
bertempur dalam alam sendiri
juga di jalan Sumbawa
di jalan lain
sunyi, berselimutkan daunan malam
tapi apa yang berpecah di dadanya
segenap peristiwa kedirian
kelahiran dan kematian
yang tak akan teraba dari jalan
sekalipun hatinya menjenguk ke dalam ruang

Bukan maut jadi pusar
soalnya Tuan bertolak dari mana
dari cinta besar, cinta perempuan
atau dari cinta anak-anak
Salamku padamu Her
kalau kau pulang malam
lihat ke dinding kiri
ada tulisan putih-putih
– manis atau pahit hanya sekali
karena soalnya hanya satu
mencari dasar keduanya
menemukan hati seluruh waktu

Di jalan ini aku bertemu dan berpisah
antara duka dan mesra
karena telah kudapatkan
sesuatu yang tak tentu berbalas

Puisi: Jalan Sumbawa
Puisi: Jalan Sumbawa
Karya: Kirdjomuljo

Catatan:
  • Edjaan Tempo Doeloe: Kirdjomuljo
  • Ejaan yang Disempurnakan: Kirjomulyo
  • Kirdjomuljo lahir pada tanggal 1 Januari 1930 di Yogyakarta.
  • Kirdjomuljo meninggal dunia pada tanggal 19 Januari 2000 di Yogyakarta.
Baca juga: Puisi Teman Sekolah

Post A Comment:

0 comments: