Puisi: Menarik Benang Merah (Karya Bambang Widiatmoko)

Menarik Benang Merah

Sejak penguasa di Langi yang berasal dari dunia atas
Dan Peretiwi dari dunia bawah, lalu sepakat untuk mengisi
Dunia Kawa – dunia tengah yang masih kosong dan sunyi
Mengirimkan anak mereka di sana melalui cahaya
Dari Langi diturunkan Bataraguru, anak sulung lelaki Patotoe
Bersama Datu Palinge. Aku telah menarik benar merah di atasnya.

Bumi masih sepi – lalu dibentuklah gunung tempat kita merenung
Hutan tempat kita belajar memanah dan mencium aroma tanah
Dilengkapi sungai berair jernih lalu kita minum dari mata airnya
Kesegaran dan kemurnian hati seperti cahaya terpantul dari matahari
Berbagai jenis tumbuhan muncul seperti merindukan pelangi
Padi tercipta dari sebuah mimpi untuk mengekalkan keberadaan bumi.

Dapatkah kita belajar persaudaraan dan kemanusiaan pada masa lalu
Dari kisah leluhur yang menurunkan pekerti luhur meski telah dikubur
Belajar dari pengembaraan untuk menebar kasih sayang
Belajar toleransi melalui ikatan perkawinan
Belajar saling menghargai antara atasan dan bawahan
Memahami silsilah meski terkadang malah membuat gelisah.

Aku telah berusaha memahami dan mencari kesadaran dalam kehidupan
Seperti pelayaran Sawerigading ke Cina – untuk mengawini I We Cudaiq
Ingin melupakan kisah gelap – diskriminasi etnis, perseteruan suku dan agama
Belajar memaknai Bhineka Tunggal Ika dan terbang bersama burung Garuda
Jika kita tanam pohon bernama kesadaran, berbuah persaudaraan dan kemanusiaan
Sejatinya kita adalah penguasa bumi – dengan hakikat cinta yang abadi.

2019


*) Terinspirasi La Galigo
Puisi: Menarik Benang Merah
Puisi: Menarik Benang Merah
Karya: Bambang Widiatmoko

Baca juga: Puisi Nasionalisme Pendek

0 Response to "Puisi: Menarik Benang Merah (Karya Bambang Widiatmoko)"

Posting Komentar

close