Sindoro Sumbing

Ada kala, yang jarang sekali
aku tak bisa lepas dari alam
tak bisa melupakan
tak bisa mengingkari kenyataan
yang menggulat kesadaran
menggulat kecintaan
dan sekali terhempas
dalam pusaran kabut, hitam menggigil
yang tak pernah dijumpakan di kota mana pun

Terpaku, menghadapi sebentuk ujud
kebesaran, keagungan dan penyerahan
menyerah menengadah
membiarkan segala lewat
membiarkan segala terjadi dan memeluk
melipat dataran hijau
siang dipeluk matahari
malam didekap bulan
senja dicengkam laut pasang

Terasa menghadapi sebentuk hati bumi
menghadapi kemutlakan
kesewajaran dan kehadiran yang penuh
menerima segala tiba
dengan segala, seluruh tubuh
hati dan kekayaannya
bulan, matahari, angin dan musim
kabut, malam dan halilintar
bahkan gemuruh laut tidak dicacinya

Meletakkan kedua tangannya
menengadah dengan wajah terbuka
melepas menyanyikan sebuah nyanyian
Yang tak pernah dipunyai oleh siapa pun
menerima segala kejadian
seperti sudah menjadi kepunyaannya
tidak menolak
tidak membenci
tidak berpaling dari arah semula

Ia menyimpan rahasia alam
yang tak akan pernah diketahui oleh manusia
dan tak akan pernah dikatakan kepada siapa pun
memeluk sampai tiba waktunya
tak ada lagi angin musim
tandus dan kering segala
pecah berkaparan
lepas dari ikatan pusar bumi
lepas dari ikatan cinta malam

Membiarkan segala bermain di hatinya
anak-anak gembala
lari melingkar putar-putaran gunduk
padang-padang hijau
dibiarkan melepas nyanyian alam
nyanyian kelepasan dan kecintaan alam hari
mengejar kecepatan hari
sampai letih
sampai lelah

Di hatinya turut indah berkemandang
sekejap datang
sekejap pergi
sekejap menghilang
Seperti malu kesipuan mencari sebentuk batu
menyembunyikan diri dari siang
menyembunyikan diri dari dera
menahan tangis yang pernah dipeluk
waktu menghadapi matinya sendiri

Terasa kehadirannya mencapai
sesuatu bentuk keindahan dan kemesraan
sebentuk penerimaan digulat kegirangan
sebentuk kewajaran dipeluk gairah
melukis sebentuk keikhlasan
sekumpulan impian dan kenangan
sekumpulan kecintaan dan kengerian
sekumpulan kejadian manusia, alam dan hari
tersusun dijalin angin dan musim

Di hatinya, di keningnya
pecah-pecah memancar nyanyian bukit
menyelinap di antara pepohonan
Di antara batu dan kapur
menyuruk ke jurang-jurang
membelit, melingkar-lingkar
mengabarkan hari akan siang
hari akan malam
hari akan berhenti

Terasalah di hadapannya
sebentuk batin manusia yang pernah diimpikan
memiliki segalanya
memiliki alam, laut dan kebiruan jauh
meletakkan hatinya pada bulat tanah
di tengah kehijauan
di tengah kengerian
di tengah kecintaan
di tengah apa pun

Yang tak pernah menolak
ketibaan pagi, siang, malam dan larut
ketibaan maut, lahir dan dera
mengalirkan sungai-sungai jernih
menjangkau laut
membersitkan cahaya dingin
ke tengah-tengah kota dan desa
dengan kedua tangan
dengan kedua hati

Membantu tak menolak kedatangan musim
tak menolak ketibaan bayang-bayang
seharian membiarkan segala yang datang
untuk berbuat di tengah-tengah hatinya
membiarkan anak-anak mengejar gairah
membiarkan orang-orang memburu cinta
orang-orang memburu umur
dan bertahan dari sepi, dan penyelesaian
dan tak pernah menghitung waktu

Tidak menanyakan apakah hari besok
sudah waktunya selesai
tidak menanyakan apakah hari lusa
tak ada musim gugur di langit
tidak menanyakan apakah malam nanti
akan tiba hari kematian bagi manusia
menanggung di antara kabut
memandang jauh
memandang dalam

Sehari-hari, semalam-malaman
meletakkan kedua tangan
meletakkan kedua hati
mengerjakan rahasia alam
mengerjakan rahasia lahir, rahasia batin
mengalirkan sungai-sungai kecil
melewati batas-batas kota dan desa
menjangkau laut sejauh-jauhnya
menjangkau diri sedalam-dalamnya.

Puisi: Sindoro Sumbing
Puisi: Sindoro Sumbing
Karya: Kirdjomuljo

Catatan:
  • Edjaan Tempo Doeloe: Kirdjomuljo
  • Ejaan yang Disempurnakan: Kirjomulyo
  • Kirdjomuljo lahir pada tanggal 1 Januari 1930 di Yogyakarta.
  • Kirdjomuljo meninggal dunia pada tanggal 19 Januari 2000 di Yogyakarta.
Baca juga: Puisi tentang Lingkungan untuk Anak SD

Post A Comment:

0 comments: