Bulan Merah

Benar engkaulah itu
Menjenguk-jenguk lurung sore
Layup hari kian waswas semata
Bersarang di lembah suara hiba
Tetes dalam-dalam menelap mengidap
Ya, engkaulah itu
Yang menyahutku, yang mencariku

Telah kuseru matahari
Meremas hariku luluh pelahan
Suar-suar lewat matamu
Padam timbul pulasnya
Dan ah, betapa rupa wajah menunggu
Kian samar terawang yang ungu

Sebuah kursi untukmu, duduklah menjenguk
Yang lengang pasti sosok tubuh dambaku
Pulang terbendung disungsung gelora muara
Akankah sebentar terjun tajam di lurah malam?

Engkaukah ini yang membenarkan wahyu angan
Mendengar kembara dari pedih kesabaran
Hinggap-hinggap lembut di bulu-bulu telinga
Ketika kautatap mulut bisu selama

Telah kurasa, telah kukira begini kisah tinggal sehari
Lagu yang gemetar karena mengkhianat ilham sendiri
Ah, siapakah di depanku ini yang menegar alisnya
Mendengar nafsu yang terbunuh
Dengan tangannya tergenggam kaku

Pasti, pasti engkaulah ini
Yang sunyi menjenguk, kemudian debar merunduk
Meregang-regang nafas, menguapkan biru malam
Akankah kugali kupendam dalam
Kapan bulan terbit, bulat merah bagai kepi durhaka.

Puisi: Bulan Merah
Puisi: Bulan Merah
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Catatan:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
Baca juga: Puisi Keikhlasan Hati

Post A Comment:

0 comments: