Di Negeri Asing

(I) Rindu

Janganlah berjalan ke daerah utara
di mana hari makin sempit dan udara telah
sebak oleh layap burung mati. Tanah hitam
terkubur dalam salju sepuluh malam
Daerah bisu di mana bahasa hanya senjata
untuk membunuh cinta
kekasih yang tidur semalam di sisi.

Di sini berakhir segala sejarah
segala kenikmatan dan kehormatan
yang tertumpah dalam darah putih.

Di atas salju segala membeku
Matahari mati.

Malam panjang menutup jalan
akan pulang ke kampung.

Rindu terkungkung. 


(II) New York

Kita harus punya pulisi sendiri
untuk menjaga keselamatan kita
waktu melalui lorong gelap kota
ini. Sebab nyawa tak berharga
dan individu hilang lenyap
di bawah arus keserakahan yang
membikin tempat ini begitu sempit
buat doa dan suara manusia.

Di atas himpitan sampah basah
cakar-langit menjerit sia-sia ke angkasa.

Ini New York. Pusat kesenian
dan segala dosa. Di mana subuh hari
di muka gedung komedi bisa bertemu
tubuh lelaki diam terbaring dengan belati
di dada. 


(III) Hari Natal

Ketika Kristos lahir 
Dunia jadi putih 
Juga langit yang semula gelap oleh darah dan jinah 
jadi lembut seperti tangan bayi sepuluh hari.

Manusia berdiri dingin sebagai patung-patung mesir 
dengan mata termangu ke satu arah.

Tak tumpah darah. Kain yang membunuh 
saudaranya belum lagi lahir.

Semua putih. Salju jatuh
Sssst, diamlah. Kristos hadir.

Puisi: Di Negeri Asing
Puisi: Di Negeri Asing
Karya: Subagio Sastrowardoyo

Baca juga: Sajak Bijak

Post A Comment:

0 comments: