Di Sebuah Kota Industri Suatu Pagi

Tiga orang lelaki desa
Tiba pada sebuah kota industri
Mata mereka membesar
Ketika melihat akar
Bukan yang mengokohkan pohonan
Tapi akar baja
Yang mengokohkan bangunan
Mata mereka silau
Bukan oleh sinar fajar
Tapi silau oleh sinar lampu pijar

Karena telah diguncang Bus
Tepat jam 10.30 malam
Mereka tidur
Di baraknya
Barak nomor dua
Mereka lelap
Meski kota industri itu panas
Tapi alangkah nyaman rasanya
Di barak nomor dua ini
Udara dingin sekali
Udara teknologi

Pagi hari
Seperti di desa mereka yang dingin
Lelaki itu bangun
Mandi, berwuduk
Lalu sholat subuh
Udara teknologi
Terus menyirami
Dalam bercakap-cakap
Tentang tempat tidur
Yang lembut dari busa
Dan tentang air yang muncrat
Dari pipa

Pagi jam tujuh
Setelah subuh
Tiga lelaki desa itu
Berjalan dan berjalan
Sepuluh menit kemudian
Dengan rasa aman
Mereka tiba
Di depan ruang makan
Tapi alangkah sepi
Ruang makan ini
Meja-meja korsi-korsi
Memang ada
Tapi tamu tak ada
Seorang pun tak ada

Ketika seseorang melintas
Di tengah ruang
Lewat kaca
Seorang lelaki
Dari desa itu
Bertanya
Mengapa pintu itu ditutup
Dan apa makanan tak ada
(Semua pertanyaan dilakukan dengan bahasa isyarat)

Orang yang ditanya
Menggoyang-goyangkan tangannya
Mungkin artinya
Sudah habis
Sudah tak ada
Sudah tutup
Tetapi lelaki dari desa itu
Tetap ingin masuk
Lalu pintu dibuka
Dan terdengar suara
Sudah tak ada apa-apa
Air panas pun tak ada?
Tak ada semua sudah dingin.
Tak apa dingin pun tak apa
Lalu ketiga lelaki desa
Minum sekedarnya
Lalu permisi
Pada sepi
Lalu mereka berjalan
Dan berjalan
Di lorong-lorong kota industri
Dengan perut tak jadi diisi

Lalu mereka berjalan
Dan berjalan
Di lorong-lorong kota industri
Dengan sanubari terisi
Ketika bersua dengan rumput
Rumput yang hijau
Mereka seperti berkata
Dalam hati
Kita puasa hari ini

Lhokseumawe, 20 Februari 1987
Puisi: Di Sebuah Kota Industri Suatu Pagi
Puisi: Di Sebuah Kota Industri Suatu Pagi
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi Tema Corona

Post A Comment:

0 comments: