Puisi: Fragmen (Karya Leon Agusta)

Fragmen

Di bawah bulan atau mentari, buat apa peduli?
Sorga pun tak dimimpikan lagi. Sudah dilampaui
Hanya tinggal mengusapkan minyak wangi di pipi
Angin menari riang menebarkan aroma dan tanda-tanda

Para fakir dan gelandangan mengeja tanda itu, di sini
Di balik kaca gelap mobil angkuhnya bayangan

Hak untuk mati suci dan indah
Tak siapa pun dapat merampas

Anak jalanan menyanyi sambil memukul botol kosong
Hatinya sekelam aspal mendidih

Dari kejauhan sana terdengar tanda, - tanpa bahasa
Warga dan satwa berhamburan, anjing hutan melolong
Gagak-gagak mencium wangi bau bangkai. Huklaaa
Jerit dan kepak sayapnya badai hasrat haus mangsa

Bulan dan bintang pagi tampak suram
Tenggelam dalam gelombang kabut hitam

Perawan hutan digunduli, perutnya terbusai
Ditebas dan dikuras. Kebakaran bikin langit melolong
Kuda-kuda menyeret punggungnya dalam lautan api
Si dungu dan si rakus berjingkrak dengan dengkul di kepala

Diiringi jazz dan musik rock mereka tulis undang-undang
Di atas lembaran mata uang asing
Demi mimpi-mimpi mereka di seberang sana, sayangku

Pabrik-pabrik kita didorong ke dalam jurang
Tinju para pekerja mengepal kaku dalam rantai

Bagaimana kita harus bersaksi
Tentang sebuah masa dengan beribu tanda seru
Tanpa bahasa kecuali perkilahan semata?

Dangdut dan keroncong melantun kian sayup
Menghibur pencinta malam di pinggiran kota

10 Februari 2010

Puisi: Fragmen
Puisi: Fragmen
Karya: Leon Agusta

Catatan:
  • Leon Agusta lahir di Sigiran, Nagari Tanjung Sani Maninjau, Sumatra Barat, 5 Agustus 1938.
  • Leon Agusta meninggal dunia di Kota Padang, 10 Desember 2015 (pada umur 77 tahun).

Baca juga: Sajak Alif
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar