Gumpal Pukal, Denting Bening

(I)

Bila burung-burung seriti berlaga di langit
Kala kaca jendela menguning bagai kunir
Saat daku mencangkung di lulur senja
Mencoba menghirup cahaya jingga
Mengusik bulu-bulu luruh sutera maya
Di tangan terperas ruas jari
Getar meruap menoreh mega
Meniup lafas keempat penjuru
Awan lukisan, gumpal polo aksara
Itulah lambang, bukan ramalan
Namun sejarah yang padam timbul
Tanpa iringan irama sangkakala

Riak malam beserpihan
Di dadaku bergulungan tanya
Karena langit serasa menangkup bumi
Karena prahara serasa membabit langit
Dan kelelawar lumpuh di tuah tanah
Ah, tiada terjawab jua
Kala daku terbujur kandas di lubuk malam

(II)

(Aku ingat orang-orang tua)
Mereka yang tiada sempat memberi nama anaknya
Mereka yang tiada sempat mengukir prasasti
Lalu membakar diri di tengah hari
(Aku ingat orang-orang tua
justru karena takut mengingatnya)

(III)

Benar matahari seperti bapa zaman
Mendaki tangga meniti jenjang hari
Menunggu lahir hewan — kepiting, jerapah, semberani
Merawat tumbuh tanaman — jewawut, lumut, gandasuli 

Benar rembulan seperti Ibu bumi
Menitikkan air mata selepas cakrawala lelap
Setelah lahir manusia jagal, bajingan, anak jadah
Setelah mati insan - janin, sahid, penyair

(IV)

Demikianlah hikayatnya
Kapan aku terhumbalang dalam awan gemawan
Lalu-bila mendung menyisih, gerimis ripis
Di timur melengkung bianglala
Antara sawang tanpa warna
Aku tak lagi menebak, tak lagi menebak roman bumi
Arif atau menyeringai atau menekur atau durhaka
Yang timbul-tenggelam disingkat kilat
Karena warna yang bernama

Ah, apakah itu ronanya
Sekali-sekali muncul
Bagai bunyi bening sedenting demi sedenting
Dalam lekuk-liku hikayat
Dalam pangkal simpul sejarah
Lalu padam dan sunyi
Disaput hening lazuardi.

Puisi: Gumpal Pukal, Denting Bening
Puisi: Gumpal Pukal, Denting Bening
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Catatan:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
Baca juga: Puisi Jeritan Anak Palestina

Post A Comment:

0 comments: