Puisi: Lima Etsa untuk Francisco José de Goya y Lucientes

Lima Etsa untuk Francisco José de Goya y Lucientes

Rumah Obat Tay Ho Tong (1868-1998)

Karena mereka tuli dan aku bisu
Mereka tak mendengar jeritanku
Mereka berteriak: Bakar! Bakar!
Apakah mereka pikir aku Abraham

Bahkan Tuhan pun berpaling
Ia yang membuat kulitku gading
Kini aku hangus dan hitam
Mungkin itu yang mereka inginkan

Pengakuan Sita di Bulan Mei

Sejak kau bakar hatiku
Kau rompak seluruh milikku
Sejak kau paksa aku takut melihatmu
Kuragukan cintaku padamu

Begitu panas dendammu padaku
Bagai besi direndam api
Dengki dan tak punya nyali
Duhai, mengapa kau rusuh dan menjarahku, Rahwana?

Peluru

Aku tak punya mata
Kalian memberiku penglihatan
Jika kalian rabun
Aku lebih rabun dari kalian

Aku tak punya musuh
Kalian memberiku lawan
Kalian menyuruhku membunuh
Aku berlepas tangan

Horatio

Tidak, Horatio, aku berkata tidak pada orasi
Politisi dan orakel dari Delphi
Jangan percaya telunjuk yang menuding
Langit dan orang lain

Aku diam bersama angin
Memuja cinta dan kesedihan
Terlalu sibuk kuhujat diriku
Tidak akan pernah kuarahkan telunjukku padamu

Partai

Monumen dan tanah lapang
Rumah parlemen dan gedung kesenian
Sesak seruan dan slogan
Ini partaiku, mana hidungmu?

Mencium harum teh
Melihat senja turun di kamar

Cahaya matahari berabad-abad bagai tembaga
Inilah hatiku: Negeri kebebasan yang sempurna

1998
Puisi Lima Etsa untuk Francisco José de Goya y Lucientes
Puisi: Lima Etsa untuk Francisco José de Goya y Lucientes
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Malam yang Susut Kelabu
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar