Puisi: Mata Penyair (Karya Subagio Sastrowardoyo)

Mata Penyair

        Ketika terbuka jendela, terdengar hiruk-pikuk kota. "Apa saja yang sudah kuberikan padamu," kata penyair, "kecuali nyawaku ini yang teraniaya."

        Rakyat yang miskin merangsak ke muka. "Kami ingin matamu!" teriak mereka. “Kami ingin matamu, yang bisa merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi emas di jalan. Beri matamu, matamu!"

        Ada yang masih mau membela penyair itu. "Ingat, tanpa mata penyair menjadi buta!"

        Tetapi rakyat yang putus asa tidak peduli. Mereka renggut mata penyair dari lubang matanya, dan lewat kedua bola matanya mereka melihat dunia sekelilingnya. Tetapi pasir yang tercecer tidak menjadi emas. Mereka menjadi kecewa dan merebus dan melahap kedua bola mata itu. Dan tidak terjadi apa-apa.

        Penyair yang buta itu duduk di jendela dan tertawa menghadap ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu indahnya. Begitu indahnya!

Dari Horison (Juli, 1993)
Puisi: Mata Penyair
Puisi: Mata Penyair
Karya: Subagio Sastrowardoyo

Baca juga: Puisi Kerinduan Malam
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar