Menungkan Nasib

Mengapa melati tak riang kembang,
Sedang pagi disepuh embun?
Mengapa gelatik melayang bimbang,
Sedang padi kumpul bertimbun?

Mengapa cemara nan kian tunduk
Sedang syamsu asyik melambai?

Mengapa anak bermurung duduk,
Adakah cita yang tak tercapai?

Ah, Ibu,

Apa melati 'kan riang kembang,
Kalau kuntum rindu penanam?

Apa hati 'kan riang senang,
Teringat untung di masa benam?

Tapi Ibu

Anakda tidak mendendam angan,
Tidak piara sakit di hati.
Selama kuat kaki dan tangan,
Kuabdi Ibu! ......... Kusedia hati.

Puisi: Menungkan Nasib
Puisi: Menungkan Nasib
Karya: J. E. Tatengkeng

Catatan:
  • J. E. Tatengkeng (Jan Engelbert Tatengkeng) adalah salah satu penyair Angkatan Pujangga Baru. Nama panggilan sehari-harinya adalah Om Jan.
  • J. E. Tatengkeng lahir di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907.
  • J. E. Tatengkeng meninggal dunia di Makassar, 6 Maret 1968 (pada umur 60 tahun).

Baca juga: Puisi Terbaik di Dunia

Post A Comment:

0 comments: