Puisi: SKETSA (Karya Leon Agusta)

SKETSA (I)

ada ular menjalar ke atas kertasku
ingin mencatatkan desis dengan lidahnya yang berbisa
tapi ia tak mempunyai kata-kata
diusapkannya lendir dan ke seluruh ruang ditaburkannya
bau anyir hingga aku tak dapat lagi dengan jelas
mencatatkan mimpi-mimpiku menjelang datangnya senjakala
meskipun padanya sesekali kuberikan juga butir-butir telur
dari persahabatanku dengan burung-burung

1975


SKETSA (II)
(interogasi)

ketika darahnya ditukar dengan air terkadang dengan es
dan isi tulang-tulangnya diganti dengan angin jantungnya
serasa hendak meloncat ke luar tapi urat-urat lehernya tak
memberinya jalan juga buat paru-parunya yang jadi liar

mungkinkah dia seekor kelinci yang lagi kesasar
sampai di sebuah kamar terperangkap atau terbaring tanpa
kesempatan untuk berdiam diri atau mendoa semaunya
ketika sebuah operasi sedang berlangsung

1975


SKETSA (III)
(hari pahlawan)

seribu bayang-bayang dikirimkan sinar bulan
lewat ranting-ranting kering dan dahan mati
direkam tembok-tembok muram, melukiskan
jari-jari yang putus, tengkorak dan tulang-belulang
mereka mohon maaf pada dunia sebab tak dapat
melakukan sesuatu dalam perang yang berlangsung

1975


SKETSA (IV)

daun menuliskan nama entah siapa-siapa dengan angin
daun mencatatkan tentang entah siapa-siapa dengan angin
daun melagukan tentang entah siapa-siapa dengan angin
entah siapa-siapa bergantungan di daun-daun di mana saja
entah siapa-siapa mengalun diterbangkan angin ke mana-mana
bertaburan melapisi kefanaan senantiasa melapisi kefanaan

1975
Puisi: SKETSA
Puisi: SKETSA
Karya: Leon Agusta

Catatan:
  • Leon Agusta lahir di Sigiran, Nagari Tanjung Sani Maninjau, Sumatra Barat, 5 Agustus 1938.
  • Leon Agusta meninggal dunia di Kota Padang, 10 Desember 2015 (pada umur 77 tahun).

Baca juga: Puisi Galau
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar