Puisi: Lagu Hujan dari Tenggara (Karya Leon Agusta)

Lagu Hujan dari Tenggara

Kita telah menentang hangatnya matahari
Matamu mutiara hitam Asia
Kita telah bertatapan sampai bermimpi
Kulihat senyummu memendam kabut
nafasku terdesak tertahan
Tiba-tiba aku melihat dalamnya jurang
jurang
kemusnahan kita dalam waktu
Cumbuan jadi pedih menyiksa
Pada setiap sentuhan kukumu melingkar rantai
perpisahan, yang semakin panjang
siapakah engkau
malaikat atau bidadari?
Alangkah dalamnya laut
nasib kita masing-masing
Aku pendam terima kasihku padamu
sejak kau sajikan mukjizat syorga itu
di sisiku
di pantai timur semenanjung
yang lengang
yang tak meneteskan noda di atas sepi
Pejamkan matamu, dengar desau angin berlalu
selamat tingal
Di bawah titian kenangan, terbentang sayup
sungai Gangga lembah dadamu
yang gemerlapan
Kuasah pesonaku, berlinangan di sana
waktu menuliskan catatan ini
lagu hujan dari tenggara
dengan angin dan laut
kenangan bersamamu: selepas dingin memintas
Kuala Trengganu

September, 1974
Puisi: Lagu Hujan dari Tenggara
Puisi: Lagu Hujan dari Tenggara
Karya: Leon Agusta

Catatan:
  • Leon Agusta lahir di Sigiran, Nagari Tanjung Sani Maninjau, Sumatra Barat, 5 Agustus 1938.
  • Leon Agusta meninggal dunia di Kota Padang, 10 Desember 2015 (pada umur 77 tahun).

Baca juga: Puisi Bucin
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar