Puisi: NGILU, Hmm. (Karya Leon Agusta)

NGILU, Hmm.

Ngilu membisu dalam sembilu
Ia mengintip lewat mata sembilu, menunggu, mencari
kalau ada tangan yang bersedia melepaskannya
Ia ingin pergi membenamkan dirinya ke perut bumi
Ia ingin tidur, setelah berjaga berbilang tahun
Ia mendengar jerit tangis di hutan terbakar
Raung dan pekik hewan sedang dibantai
Ia merasa seperti sungai tua membusuk
Tak berdaya dan celaka

Ngilu menangis dalam sembilu
Ia  menangis. Merasa jadi ibu dari segala tangis
Ia ingin jadi bapa bagi sebuah senyum, sebuah kata
Ia ingin menjadi sebuah koma dalam sebuah puisi
Menjadi sebuah tanda tanya bagi yang mengembara
Tapi ia cuma ngilu yang tersingkir
Terperangkap sendiri
Suaranya takkan jadi ayat

Ngilu membatu dalam sembilu
Dalam satu mimpi buruk ia menyaksikan ledakan api
kemudian gempa dan hujan topan menggelegar
melemparkan berjuta sembilu ke udara
Ketika langit pun terluka, arakan kabut menjelma
jadi bungkalan darah, tumpah ke bumi
Di bawah matahari lembayung ia menyaksikan sukmanya
bangkit, gagah perkasa
Jasadnya hanyut dalam air bah dan banjir darah
Ketika terjaga dia menemukan dirinya
Terluka dan meronta dalam sembilu
Ngiluuu, hmm

1987
Puisi: NGILU, Hmm.
Puisi: NGILU, Hmm.
Karya: Leon Agusta

Catatan:
  • Leon Agusta lahir di Sigiran, Nagari Tanjung Sani Maninjau, Sumatra Barat, 5 Agustus 1938.
  • Leon Agusta meninggal dunia di Kota Padang, 10 Desember 2015 (pada umur 77 tahun).

Baca juga: Puisi Perihal Patah Hati
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar