Bencana

Toko-toko di kota
sudah ditutup. Anjing menjajakan gonggongnya
pada yang bergegas lewat. Tak seorang tahu
sekarang jam berapa. Hari sudah jadi kemarin.
Nyanyian sudah berhenti di night-club.
Polisi kembali ke pos, menyerahkan pestol
dan tanda pangkat pada bajingan. Yang serba
hitam mengambil alih pasar-pasar. Menawan
wali kota. Mendudukkan kucing di pos-pos
penjagaan. Mereka tahu, semua sudah jadi tikus.
Sia-sia! Rumah-rumah tertutup rapat.
Tidak peduli hari menggelap, lampu jalan
memecah bola-bolanya karena sedikit gerimis,
terdengar retaknya. Kertas-kertas koran,
coklat dan lusuh menggulung kotoran kuda.
Besi-besi berkarat memainkan sebabak silat
di jalanan, lalu diam mengancam. Terdengar
gemuruh tapak kuda di setiap muka rumah,
merebut darah dari jantung. Detak darah tidak
karena urutan, tapi diperintah ringkikan kuda.
Nyanyian sudah berhenti, dihapus dari ingatan.

Puisi: Bencana
Puisi: Bencana
Karya: Kuntowijoyo


Catatan:
  • Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A.
  • Kuntowijoyo lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 18 September 1943.
  • Kuntowijoyo meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 2005 (pada umur 61 tahun).

Post A Comment:

0 comments: