Elegi Tanah Airku

Indonesia tanah tumpah darahku,
jangan lagi menangis
apalagi mata air airmatamu sudah kering
Indonesia kebangsaanku, berhentilah terkaget-kaget
menyaksikan anak-anak bangsamu cakar-cakaran
saling jegal, saling tuding, saling fitnah
saling menumpahkan darah

Asap dan bau amis memenuhi angkasa nusantara
bahasa kekerasan adalah bahasa sehari-hari
sangat mudah diucapkan dan diteriakkan
sangat mudah dipahami
huruf-hurufnya sangat jelas
orang buta pun mampu membacanya

Cakar, tuding, fitnah, culik, tembak
sudah mencemari kamus budaya bangsa
arif, bijak, adil, jujur
tak lagi jadi sendi moral bangsa
laut pun kehilangan ombak
langit kehilangan cahaya
burung-burung tak kuasa mengepakkan sayap
sepertinya harapan dan cita-cita
hampir tercabik-cabik dan nyaris sekarat

Indonesia tumpah darahku
terimalah tumpahan darah anak-anakmu
mereka belum sempat berbuat lebih banyak
serta menghirup kesegaran udara tanah air
mereka terpaksa tersungkur mencium bumi pertiwi
terlandas kampak-kampak kekerasan
pohon pun bertumbangan
kebun-kebun semakin tandus
lumpur, tanah dan air bergumpalan di mana-mana
sepertinya takut cemas, curiga, putus asa
kian menghunjam lebih tajam
melengkapi kegelapan kota-kota mati

Indonesia, tanah airku
betapapun aku akan kembali ke tanahmu
airmu akan tetap membasahi dahagaku
namun kepada siapa sesungguhnya
kami memaklumatkan perlawanan habis-habisan
untuk menyatakan bahwa dalam diri kami
masih ada yang namanya cinta
kehendak untuk tetap merdeka dan teguh bersatu
biarkan pula burung-burung merapikan sarangnya
ikan-ikan menjilat lumut-lumut karang
langit menyibakkan mendung awannya
matahari tak henti memancarkan cahaya kehidupan
dan lagu Indonesia tanah airku
tetap berkumandang di angkasa
dan masih sanggup menggidikkan bulu roma

Jakarta, 1999
Puisi: Elegi Tanah Airku
Puisi: Elegi Tanah Airku
Karya: Aspar Paturusi


Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Post A Comment:

0 comments: