Kereta Api Terakhir

Tak dihitung lagi matahari
Ketika kereta itu bergerak. Ke dunia yang lain
Cakrawala kehilangan ufuk. Orang-orang terpaku
    di tempatnya
Belum pernah seribu musim turun begitu
    dalam polka
    dalam Pakanjara
    dalam tamburnya sendiri-sendiri

Tiba-tiba tak ada lagi yang tersembunyi
Semua jadi teraba. Telanjang
Segala jadi bersuara. Bangkit
Menggusur jasad dan pikiran-pikiran kita
Konsep-konsep dan mimpi-mimpi kita
Dalam intensitas yang semakin tinggi. Dalam otomasi
    yang sempurna

Maka hening pun tercabik-cabik
Maka eksistensi pun menyerpih-nyerpih

Jakarta, 1986
Puisi: Kereta Api Terakhir
Puisi: Kereta Api Terakhir
Karya: Mochtar Pabottingi


Catatan:
  • Mochtar Pabottingi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan tanggal 17 Juli 1945.

Baca juga: Puisi tentang Kuliah

Post A Comment:

0 comments: