Suatu Malam di Honolulu

Seorang setengah baya
Melantunkan lagu-lagu Hawaii
Dengan gitar. Di sidewalk Waikiki

“Untuk tuan-tuan. Untuk nyonya-nyonya
Untuk tuan-tuan dan nyonya-nyonya!” serunya
Ke segenap turis yang lalu lalang
“Kunyanyikan sendiri
Beberapa lagu hasil piringan hitamku
Dari dua puluh lima tahun lalu.”

Di sepanjang deretan stalls penjual accessories
        dan perhiasan-perhiasan emas palsu
        para turis berkulit udang matang mengalir tiada henti
        dengan pakaian-pakaian santai
        dengan bikini atau sekedar handuk terlilit

Mereka menengok sejenak kepada sang penyanyi
Ada yang mengangguk-angguk tersenyum. Ada yang tercenung
Satu-dua melemparkan kepingan-kepingan dimes dan quarters
        yang jatuh di dekat topi tampung

Seorang dengan seragam penjaga Istana Eropa
Melangkah tegap dalam upacara bendera. Di King’s Village
Dengan ayunan-ayunan lincah senapan kuno
Mungkin mengimbau Captain Cook. Yang tewas di sini
Yang ruhnya bangkit kembali. Bersama Hawaii Five-O


Adapun tiga lengkung pelangi
Siang tadi. Di atas Magic Island dan Hanauma Bay
Telah direguk sekali teguk oleh para turis
Bersama Budweiser dan bergelas-gelas anggur
Di selonjoran lidah-lidah pantai. Di balik hotel-hotel mewah
Yang aman dan teduh

Adapun orang-orang Hawaii
Sudah lama tak kuasa membunuh ruh itu
Merekalah yang justru terus terdesak gusur
Pada hari-hari ini
Dari pantai ke pantai. Dari gigir ke gigir
Di tanah sendiri

Astaga!
Pastilah imajinasi gila
Yang meloncatkan ingatanku pada orang-orang Filipina
Dan orang-orang Betawi
Dan tak terhitung mereka. Di seluruh tanahairku

Sudah begitu kelu lidah kita untuk menyebut diri
Dengan nama sendiri.
Honolulu, 1978
Puisi: Suatu Malam di Honolulu
Puisi: Suatu Malam di Honolulu
Karya: Mochtar Pabottingi


Catatan:
  • Mochtar Pabottingi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan tanggal 17 Juli 1945.

Baca juga: Puisi Lucu untuk Sahabat

Post A Comment:

0 comments: