Puisi: Mata Air Wiratsana (Karya Kurnia Effendi)

Mata Air Wiratsana

Sampailah kita di gerbang candi, sebelum waktu mati
Pada halaman batu merah kusam darah ini:
    Setanggi di lingkar piring, sesaji telah mengering
    Doa kita diraih tangan dewata dari celah awan
Bacalah puisi di sini dengan permainan bunyi, sepanjang pagi
Suaramu akan tergenang bagai sebuah upacara kuningan

Kepada siapa aku bertanya ketika jawaban tak tersedia?

Lupakan amsal yang tersisa di museum, ketika kepala sebuah arca terpenggal dan tak mau lagi bercerita
Lupakan seluruh muasal, karena darinya kita hanya mampu menyesal. Bukankah hidup selalu mendua?
Di kiri dan kanan terdapat ribuan pilihan
    Kegelapan yang memiliki jalan atau terang
yang senantiasa menipu langkahmu

Membiarkan air membuncah tanpa ingin menadah, semata doa. Sebab kenangan tak mungkin ditulis ulang

Wahan sahaja yang mengendap pada dasar cangkir kopi semalam, melahirkan banyak tera dan bayang
Di dinding-dinding perjalanan, di jejak-jejak pengembaraan
Seturut usia mencapai ambang petang sebagaimana yang dituturkan berkali kepada penghuni surga

Mengapa harus mencari ritus bila ingin jadi manusia kudus?
Relakan nujuman masa lalu menunaikan pesan
: Air terus mengalir dari mata yang tak lelah memecah rahasia

Bandung, 2018
Puisi: Mata Air Wiratsana
Puisi: Mata Air Wiratsana
Karya: Kurnia Effendi

Catatan:
  • Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Oktober 1960.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar